بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
***
Wahai Yang Satu!
Aku berserah diri pada-Mu
Hamba ini adalah dari-Mu dan dia Lemah
Jika Engkau pelihara kedua mataku dari melihat-Mu
Maka telah aku sediakan hati ini sebagai rumah-Mu
Wahai orang yg penat oleh tuntutan Jasad
betapa banyak usahamu menggapai kedamaian
Engkau telah membuat ragamu lelah untuk sesuatu yg merugikan
bangkitkan jiwa dan sempurnakanlah keutamaannya
Sebab kita menjadi manusia dengan Ruh bukan dengan jasad.
Wahai orang yg sedang berjalan!
Yang memandang dengan kedua mata
Yang melihat sesuatu yg tidak terlihat
Dosa bertemu dosa,
dan engkau berharap tinggal di Syurga
dan satu kemenangan abadi.
Sedang engkau lupa bahwa Allah menurunkan Adam dari surga
dengan satu dosa.
*
*
*
Surga adalah kampung halaman kita
"sekarang musuh telah menawan kita"
Akankah kita terbebas dan kembali kekampung halaman kita!?
O, Manusia…
Mentari telah menyapamu sementara engkau dalam pelukan rembulan. Kokok ayam telah mengingatkanmu untuk menyucikan jiwamu, namun engkau terlena dalam buaian bidadari ilusi… yang membuat jiwamu jauh dari Ilahi… Kepada siapakah sebenarnya jiwamu kau peruntukkan? Kepada siapakah sebenarnya ragamu kau persembahkan?
O, Manusia…
Di pohon kehidupan aku bernyanyi, sementara di tanah kenikmatan kau berdiri. Aku peringatkan kau setiap pagi bersama embun yang menari–nari di bawah senyuman sinar mentari, tapi kau menganggap semua itu hanyalah kicauan yang menyejukkan hati dan mencerahkan hari. Bagaimana mungkin harimu cerah, sedangkan hatimu lelah mencari duniawi? Bagaimana mungkin engkau harapkan kebahagiaan dari taman–taman surgawi, sementara cinta-kasihmu terbagi?
O, Manusia…
Aku berteduh sejenak dari terik mentari, mengapakah kau terus bekerja memaksa diri? Aku menyuapi anak–anakku dengan makanan yang kucari dengan paruhku sendiri, mengapakah engkau memberi anak–anakmu dengan rejeki hasil mencuri? Aku membangun sarangku dari pemberian bumi yang kukumpulkan sedikit demi sedikit, hari demi hari, lalu kucari tempat yang damai di dahan pepohonan yang tak berduri. Satu sarang, cukuplah bagiku… asalkan keluargaku masih dapat menikmati udara pagi dan hangatnya sinar mentari. Kini kubertanya padamu, “Mengapa kau bangun pabrik–pabrik, gedung–gedung pencakar langit yang mengganggu ekosistem bumi? Mengapa pula kau dirikan banyak rumah mewah yang akhirnya tak kau tinggali?”
O, Manusia…
Mentari beranjak meninggalkan marcapada, sementara bulan bersiap menjenguk bumi. Anak-anakku telah bersiap–siap untuk tidur dengan sayapku sebagai selimut mereka, dan di sampingku ada pasangan hidupku yang selalu setia bersamaku. Aku heran mengapa kau tak bersama keluargamu… padahal mereka butuh kasih sayangmu, mereka butuh belaian mesra tanganmu, mereka butuh kata-katamu yang menyejukkan hati, mereka butuh bukan hanya banyaknya hartamu, melainkan juga hangatnya hatimu… Tidakkah kau sadari hal ini? Aku mensyukuri semua yang kudapat hari ini, sementara kau mencaci semua yang kau peroleh hari ini. Demi siapakah sebenarnya kau bekerja? Demi apakah sebenarnya kau berusaha?
O, Manusia…
Bulan–bulan sedang berdansa, bintang–bintang sedang menari, galaksi–galaksi sedang bernyanyi. Benar…semesta sedang berpesta. Aku akan mengajak jiwamu terbang mengangkasa sebelum paruhku kaku dan diriku fana. Aku akan mengajak dirimu ke tempat dimana tiada lagi penderitaan, tiada lagi kesengsaraan, tiada lagi kehampaan. Itulah negeri Abadi. Disana yang ada hanyalah kebahagiaan, kenikmatan, serta keabadian. Engkau dengan mudah dapat mencapainya asalkan hatimu tetap terjaga meskipun dirimu tertidur. Tiada kata yang tepat untuk menceritakan kebahagiaan disana pun tiada pena yang dapat untuk melukiskan dan menuliskan segala kejadian disana.
O, Manusia…
Dengarlah, aku akan berdendang untukmu… Kupersembahkan kidung ini khusus untukmu, agar kau selamat dalam menempuh perjalananmu menuju negeri Abadi. Dengarlah, resapilah, dan simpanlah dalam hatimu…, pesanku lagi, bila umurmu panjang, wariskanlah kidungku pada anak cucumu sehingga mereka semua bisa bahagia bersamamu kelak di negeri Abadi.
Dengarlah… aku akan mulai bernyanyi,
“Ribuan orang,
kau kenal,
percuma saja,
kalau kau,
tak kenal,
dirimu sendiri.”
“Ribuan negeri,
kau taklukan,
percuma saja,
kalau kau,
tak taklukkan,
diri sendiri.”
“Ribuan senyum,
kau berikan,
percuma saja,
kalau senyummu,
tak tulus,
dari hati.”
“Ribuan kata,
kau ucapkan,
percuma saja,
kalau terucap,
tidak dari,
hati nurani.”
“Ribuan hari,
kau lewati,
percuma saja,
kalau tidak,
kau cerahkan,
ribuan hati.”
“Ribuan liku,
kau tempuh,
percuma saja,
kalau tidak,
kau tempuh,
jalan Abadi.”
“Ribuan buku,
kau baca,
percuma saja,
kalau kau,
tak baca,
ayat Ilahi.”
“Ribuan musik,
membuatmu menangis,
percuma saja,
kalau kau,
terus menertawakan,
musik Surgawi.”
“Ribuan ruang,
kau hiasi,
percuma saja,
kalau tidak,
kau hiasi,
ruang Hati.”
“Ribuan rumah,
kau bangun,
percuma saja,
kalau kau,
tak kunjungi,
rumah Ilahi.”
“Ribuan penyakit,
kau obati,
percuma saja,
kalau kau,
tak obati,
penyakit hati.”
“Ribuan samudera,
kau arungi,
percuma saja,
kalau tidak,
kau arungi,
samudera Hakiki.”
“Ribuan mutiara,
kau persembahkan,
percuma saja,
kalau tidak,
kau persembahkan,
Cinta Sejati.”
“Ribuan bidadari,
kau cintai,
percuma saja,
kalau tidak,
kau cintai,
Diri Sejati.”
“Ribuan misteri,
kau buka,
percuma saja,
kalau kau,
tak membuka,
Tabir Ilusi.”
“Ribuan tempat,
kau kunjungi,
percuma saja,
kalau kau,
hanya dapat,
nikmat sesaat.”
“Ribuan peristiwa,
kau alami,
percuma saja,
kalau tidak,
kau ambil,
hikmah Hakiki.”
“Ribuan kehidupan,
kau ubah,
percuma saja,
kalau tidak,
dimulai dari,
diri sendiri.”
“Ribuan hal,
kau pahami,
percuma saja,
kalau kau,
tak pahami,
hakikat Diri.”
O, Manusia…
Aku mencintaimu meski kutahu kau tak mencintaiku, karena dari dahulu, diriku tercipta untuk dirimu. Kau awetkan aku dan kubalas dengan tubuhku yang dapat menambah pundi-pundi hartamu. Kau kurung aku dan kubalas dengan kicauan merduku. Kau buru aku dan kubalas dengan bulu-bulu indahku. Kau tembak aku dan kubalas dengan telur yang menyehatkanmu. Kalau aku hanya memikirkan diriku dan keluargaku, maka takkan mungkin aku mau berkorban untukmu. Biarlah aku mati, asalkan kau bahagia… Bagiku, hidup yang sekali ini, biarlah berarti … untukmu … selamanya....
Pejamkan Mata dan bukalah mata hatimu, karena perjalanan spiritual tidak akan tertembus melalui panca indrawi. Apabila rasionalisme mencapai puncak eksistensi dalam pencarian kebenaran, maka puncak eksistensi itu hanyalah awal dari perjalanan baru spiritual …demikianlah rasionalisme tidak mampu menggapai perjalanan tahap lanjut menuju Allah, karena perjalanan tahap lanjut itu bukan berjalan, bukan juga berlari selayaknya aktivitas jasmani, melainkan terbang seperti layaknya perjalanan spiritual pada umumnya.Siapa yang hanya hendak mengandalkan rasionya dalam mengenal Tuhan dan tidak mengandalkan Qalbunya, maka dia telah mereduksi kemanusiaannya.Itu persis seseorang yang ingin menikmati musik dengan matanya atau persis seseorang yang ingin berjalan dengan kepalanya. Dan, cahaya Ilahi itu hanya bisa diperoleh melalui pembersihan hati.Cahaya Allah yang berupa sifat-sifat Allah yang suci dan mulia bersinar di dalam hati sanubari manusia, memperteguh keyakinan sehingga si hamba mendapat kesejukan dan kenikmatan dalam jiwanya.Merasakan kesejukan dan kelezatan iman dalam jiwa akan menumbuhkan ketenangan yang sangat diperlukan oleh jiwa yang resah gelisah. Jiwa akan menjadi sakinah dan mutmainnah setelah mendapat sinar yang menerangi hidup manusia lahir dan batin. Ketenangan jiwa yang mendapat sinar dari Allah Swt.akan memberi kekuatan, keteguhan dalam mempertahankan hidup suci dalam ketaatan, serta memperkokoh (istiqamah) mempertahankan keimanan dan keyakinan.Saat bertawajjuh (Meditasi), pada awalnya, dalam pandangan mata terpejam, pedzikir akan melihat berbagai hal, misalnya padang rumput yang luas, laut yang luas, cahaya, tulisan ‘Allah’, dan lain-lain. Semua penglihatan tersebut adalah penglihatan yang masih baur (belum terfokus). Pada tahap tertentu, dimana pikiran berhasil difokuskan, maka yang nampak adalah ‘sesuatu yang bermakna’ (tidak bisa diceritakan karena bersifat rahasia dan khas).Dengan memejamkan kedua mata iniKunikmati Degup jantung berpacu dalam Lautan DzikrullahPerlahan hentakannya Menggetarkan hati iniBermain dengan pikiran dalam kesendirianCahaya hadir dalam pejaman tanpa bebanKunikmati udara lembut mengalir melalui hidung iniCahaya semakin benderang dalam kegelapan ituBukan Hampa…..hanya ruang seluas samudera tak berbatasMenarik ujung bibirku untuk tersenyum dalam ruang kosong itutanpa beban……merangkulkuSejenak kurebahkan tubuh ini menikmati indahnya KesendirianBerjalan mengarungi Dunia pikirankuTerpana jiwaku berlari lepas tanpa bebanhilang lah sudah segala himpitan dalam pejaman matamenikmati hadirnya cahaya dalam kegelapanAku menari diawan putih…….Terbang dan berputar, dalam lembut dunia kesendirianIndah memejamkan matamelepaskan jiwa ini menikmati alamnyaWarna warni kehidupan berputar silih bergantiKuberjalan perlahan dalam Ruang jiwakuTak kutemukan Api disanaSirna dalam pejaman matahanya ketenangan dan tarian hatiAh,,,, Indah sekali ruang dalam jiwa initerbuai aku dalam pesona irama jiwamengalir lembut dalam helaan nafas kedamaianSeperti pohon menari indah dan bernyanyiterbuai dalam kedamaian jiwaMenikmati ruang dalam jiwa dalam seribu maknaBukan dunia kesepian, hanya sejenak ingin menariMelepaskan seluruh jiwa ini dari kelelahannyabermain di dunia nyata jiwaAlam jiwa yang sangat luas,yang hanya dapat dilihat oleh hatiIndah sekali dunia jiwa….Gelombang keindahan berputar membawa setiap pikiranMenderu dalam terpaan kehangatanLepas dalam tarian jiwaAku tahu……….Duduk menikmati pejaman mata dalam kesendirianMelepas segala beban dan kesedihanLepas dan menari.. berputar,,, bernyanyiMelayang.. jauhhhjauhh dan semakin jauhindah dan semakin indahAku menari dalam emosi jiwa, dalam pajaman mataBebas dan lepas…….seperti burung melayang tinggi…..jauh kesamudera luas jiwa inibernyanyi berputar dan berkelana bersama indahnya hatihembusan kehangatan jiwa berputar dan bergelombangPerlahan kubuka pejaman mata iniMasih kunikmati Indahnya tarian jiwahanya senyuman hati mengalir dalam darahtak ada lagi beban yang menahan Gemuruh hatimeski tak lagi memejamkan mataJiwaku masih menikmat nikmat Ruang luas samudera itu