بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 September 2012

Menyatu dengan Alloh


Dunia telah mengalami kamajuan segala hal, tetapi di bidang kerohanian, manusia tetap bodoh. Mereka menjelajahi sungai, gunung dan lautan, tetapi dirinya tidak. Apakah gunanya ilmu pengetahuan bila menusia tidak mengenal dirinya. ?

“Tujuan dari semua ilmu pengetahuan adalah satu dan hanya satu. Engkau harus tahu siapa dirimu pada hari pengadilan Engkau boleh mengetahui segala sesuatu, tetapi bila engkau tidak mengenal dirimu sendiri, engkau bodoh”.Manusia itu bodoh karena ia tidak mengenal dirinya sendiri. Manusia boleh menguasai segala sesuatu yang ada di dunia, tetapi bila ia tidak tahu menahu tentang jiwanya, maka seluruh hidupnya sia-sia belaka.

Tujuan hidup manusia adalah untuk bersatu dengan Tuhan dengan jalan mengingat Tuhan, merasa bahagia dengan keadaan itu dan mengasihi Dia beserta ciptaan-Nya.

Tetapi, dengan memalingkan mukanya dari Tuhan, manusia menjadi hampa-kasih dan menjadi musuh sesamanya.

Manusia yang sayoganya menjadi pecinta atau bakti Tuhan kemudian menjadi pengayom dari kepercayaan palsu dan bersifat keduniawian. Bahkan keduniawian berarti memalingkan diri dari Tuhan dan mencintai serta mendengarkan yang lain ?

“ketahuilah apa artinya keduniawian” yaitu memutuskan hubungan dengan Tuhan, memikirkan tentang segala sesuatu kecuali kasih akan Dia dan mendengarkan akan hal- hal lain kecuali pujian bagi Dia”

semua agama mengkhotbahkan kebenaran etika dan kerohanian yang sama untuk umat manusia. Ajaran pokoknya adalah bahwa manusia harus berkelakuan baik, percaya kepada Tuhan dan berhubungan denga Dia.Tetapi mereka tidak memberi tahu bagaimana para guru Agama itu telah mencapai puncak kerohanian dan bagaimana kita dapat mencapainya, Mereka menekankan pentingnya untuk mancapai kitab-kitab suci, tetapi mereka tidak menerangkan bagaimana kita juga dapat mengalami semua hal yang diuraikan dalam kitab suci itu serta mereka tidak membawa kita ke kapal itu.Dalam dunia seperti itu, para suci menunjukan Rahasianya dan memberitahukan jalan yang mudah untuk mencapai kenyataan yang terdapat dalam diri setiap umat manusia.

Mereka mengatakan, jalan itu telah diciptakan oleh Tuhan dan telah ada sejak permulaan ciptaan. Itu bukan buatan manusiaPara suci mengatakan bahwa Tuhan memang ada dan bahwa semua agama berusaha untuk menyatukan diri dengan Dia. Jalan penyatuan diri dengan Tuhan itu di sebut Agama “Religion” (Agama) berasal dari kata `religare` yang berarti ‘menyatukan’ atau ‘mengikat’. Tujuannya yang sejati sudah terkandung dalam makna kata itu sendiri.

Tuhan merupakan lautan kehampaan yang tak terbatas, tak terhingga dan maha tembus. Selama pikiran kita tidak sama sekali diam, jiwa tidak dapat menghayati kesunyian yang memancarkan Suara sunyi atau sabda. Dan dengan menghubungi sabda itu, jiwa kita akan menyatu dengan kesunyian itu. Begitulah rahasiah kesunyian.

Namun demikian akal budi tidak dapat memahami hal-hal yang kekal abadi. Itu hanya dapat di pahami oleh jiwa dan hanya dapat dilihat dengan cara masuk ke dalam. Kita tidak dapat membayangkan Tuhan, kerena Ia berada di luar jangkauan pikiran dan akal budi..

Bagaimanakah kita dapat menyatu dengan Tuhan (Alloh) ? Tuhan yang tidak terbatas, yang melampaui semua ini, yang terbesar dari segala yang besar, mengambil wujud yang terkecil diantara segala yang terkecil, dan menempatkan dirinya dalam hati manusia. Kebenaran ini menakjubkan karena Tuhan yang Maha Besar tak terhingga dan Maha Kuasa, membiarkan Dirinya terkurung dalam hati manusia.

Jika kekuasaanmu sebagai manusia disatukan dengan kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas, engkau jadi maha besar dan maha kuasa, engkau menunggal dengan Tuhan.Proses yang menyatukan Tuhan dengan dirimu di sebut Bakti, jalan pengabdian .

Bila engkau dekat dengan Tuhan dan bila engkau disayang Tuhan , engkau akan memperoleh kasih-Nya, dan segera semua sifat burukmu akan lenyap dan diganti dengan sikap sifat-sifat yang baik yang merupakanKembangkanlah kasihmu sehingga engkau selalu makin dekat dengan Tuhan dan makin di cintai Tuhan.Cara termudah untuk mendekatkan diri pada Tuhan ialah dengan mengingat Dia pada waktu melihat, mengatakan, dan malakukan apapun saja.Hanya melalui pengabdian sepenuh hati, engkau dapat memahami Aku, engkau dapat melihat Aku yang sesungguhnya, dan engkau dapat masuk ke dalam Aku serta manunggal dengan Aku (Tuhan).Menurut Al-Quran : dan kami (Alloh) lebih dekat kepadanya dari pada Urat leher nya : Q.S Qaat (50 ayat 16)Dan dialah (Alloh) bersama kamu di mana saja kamu berada. (Q.S Al-Hadiid (57 ayat 4)barang siapa yang menharapkan untuk menemui Alloh, maka janji Alloh akan datang, Dia Maha mendengar dan Maha Mengetahui. Al-Ankabut (29 ayat 5)hai manusia, sesungguhnya kamu harus mengusahakan diri dengan ketekunan yang setekun- tekunya sehingga sampai kepada Tuhanmu lalu kamu menemui-Nya. (Q.S Al-Insyiqaaq (84 ayat 6).

Kesiapan Menerima Pancaran Cahaya


Datangnya anugerah itu menurut kadar kesiapan jiwa, sedangkan pancaran cahayaNya menurut kadar kebeningan rahasia jiwa.

Anugerah, berupa pahala dan ma’rifat serta yang lainnya, sesungguhnya terga tung kesiapan para hamba Allah. Rasulullah saw, bersabda:

“Allah swt berfirman di hari qiamat (kelak): “Masuklah kalian ke dalam syurga dengan rahmatKu dan saling menerima bagianlah kalian pada syurga itu melalui amal-amalmu.” Lalu Nabi saw, membaca firman Allah Ta’ala “Dan syurga yang kalian mewarisinya adalah dengan apa yang kalian amalkan.” (Az-Zukhruf: 72)

Adapan pancaran cahaya-cahayaNya berupa cahaya yaqin dan iman menurut kadar bersih dan beningnya hati dan rahasia hati. Beningnya rahasia hati diukur menurut kualitas wirid dan dzikir seseorang.

Dalam kitabnya Lathaiful Minan, Ibnu Athaillah as-Sakandary menegaskan, “Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala menanamkan cahaya tersembunyi dalam berbagai ragam taat. Siapa yang kehilangan taat satu macam ibadah saja dan terkaburkan dari keselarasan Ilahiyah satu macam saja, maka ia telah kehilangan nur menurut kadarnya masing-masing. Karenanya jangan mengabaikan sedikit pun atas ketaatan kalian. Jangan pula merasa cukup wirid anda, hanya karena anugerah yang tiba. Jangan pula rela pada nafsu anda, sebagaimana diklaim oleh mereka yang merasa dirinya telah meraih hakikat dalam ungkapannya, sedangkan hatinya kosong…”Jangan keblinger dengan Cahaya atau bentuk Cahaya sebagaimana tergambar dalam pengalaman mengenai Cahaya lahiriyah, baik yang berwarna warni atau satu warna. Cahaya batin sangat berhubungan erat dengan kebeningan batin, tidak ada rupa dan warna yang tercetak. Melainkan pancaran Cahaya keyakinan total kepadaNya.Perihal pancaran Cahaya ini, beberapa item pernah kita ungkap di edisi 2006, namun masih relevan untuk kita renungkan kembali, dan tertuang dalam kitab Al-Hikam:

“Bagaimana hati bisa cemerlang jika wajah semesta tercetak di hatinya? Bagaimana bisa berjalan menuju Allah sedangkan punggungnya dipenuhi beban syahwat-syahwatnya? Bagaimana berharap memasuki hadhirat Ilahi sedangkan ia belum bersuci dari jinabat kealpaannya? Atau bagaimana ia faham detil rahasia-rahasiaNya, sedangkan ia tidak taubat dari kelengahannya?”Semesta kemakhlukan adalah awal dari hijab Cahaya, dan ikonnya ada pada nafsu syahwat dan kealpaannya.“Siapa yang cemerlang di awal penempuhannya akan cemerlang pula di akhir perjalannya.” Kecemerlangan ruhani dengan niat suci bersama Allah dalam awal perjalanan hamba, adalah wujud pantulan Cahaya yang diterima hambaNya, karena yang bersama Allah awalnya akan bersama Allah di akhirnya.

“Orang-orang yang sedang menempuh perjalanan menuju kepada Allah menggunakan petunjuk Cahaya Tawajuh (menghadap Allah) dan orang-orang yang sudah sampai kepada Allah, baginya mendapatkan Cahaya Muwajahah (limpahan Cahaya). Kelompok yang pertama demi meraih Cahaya, sedangkan yang kedua, justru Cahaya-cahaya itu bagiNya. Karena mereka hanya bagi Allah semata, bukan untuk lainNya. Sebagaimana dalam Al-Qur’an, “Katakan, Allah” lalu tinggalkan mereka (selain Allah) terjun dalam permainan.” Itulah hubungan Cahaya dengan para penempuh dan para ‘arifun, begitu jauh berbeda.

“Cahaya adalah medan qalbu dan rahasia qalbu. Cahaya adalah pasukan qalbu, sebagaimana kegelapan adalah pasukan nafsu. Bila Allah hendak menolong hambaNya, maka Allah melimpahkan padanya pasukan-pasukan Cahaya, dan memutus lapisan kegelapan dan tipudaya.”

Wilayah Cahaya adalah qalbu, ruh dan sirr. Cahaya akan memancar sebagai instrument, wujud adalah hakikat yaqin yang memancar melalui instrumen pengetahuan yang dalam tentang Allah.“Allah mencahayai alam lahiriyah melalui Cahaya-cahaya makhlukNya. Dan Allah mencahayai rahasia batin (sirr) melalui Cahaya-cahaya SifatNya. Karena itulah cahaya semesta lahiriyah bisa sirna, dan Cahaya qalbu dan sirr tidak pernah sirna.”

“Pencerahan Cahaya menurut kebeningan rahasia batin jiwa”.“Sholat merupakan tempat munajat dan sumber penjernihan dimana medan-medan rahasia batin terbentang, dan di dalamnya Cahaya-cahaya memancarkan pencerahan.” Karena itu cita dan hasrat anda, hendaknya pada penegakan sholat, bukan wujud sholatnya.

“Apabila cahaya yaqin memancar padamu, pasti anda lebih dekat pada akhirat dibanding jarak anda menempuh akhirat itu sendiri. Dan bila anda tahu kebaikan dunia, pasti menampakkan gerhana kefanaan pada dunia itu sendiri.” Maksudnya, nuansa ukhrowi menjadi lapisan baju anda, yang melapisi Nuansa Ilahi. Segalanya terasa dekat tanpa jarak padamu.

“Tempat munculnya Cahaya adalah hati dan rahasia jiwa. Cahaya yang ditanamkan dalam hati adalah limpahan dari Cahaya yang menganugerah dari khazanah rahasia yang tersembunyi. Ada Cahaya yang tersingkapkan melalui makhluk-makhluk semesta, dan ada Cahaya yang tersingkapkan dari Sifat-sifatNya. Terkadang hati berjenak terhenti dengan Cahaya-cahaya, sebagaimana nafsu tertirai oleh alam kasar dunia.” Itulah ragam Cahaya, ada Cahaya muncul dari kemakhlukan ada pula Cahaya SifatNya. Tetapi, jangan sampai Cahaya jadi tujuan, agar tidak terhijabi hati kita dari Sang Pemberi Cahaya, sebagaimana terhijabinya nafsu oleh alam kasar dunia.

“Cahaya-cahaya rahasia jiwa ditutupi oleh Allah melalui wujud kasarnya alam semesta lahiriyah, demi mengagungkan Cahaya itu sendiri, sehingga Cahaya tidak terobralkan dalam wujud popularitas penampakan.” Itulah Cahaya yang melimpahi para ‘arifin, auliya’ dan para sufi, yang dikemas oleh cover tampilan manusia biasa. Sebagaimana Rasulullah saw, disebutkan , “Bukanlah Rasul itu melainkan manusia seperti kalian, makan sebagaimana kalian makan, minum sebagaimana kalian minum.” Ini semua untuk menjaga agar para hamba tidak berambisi popularitas, dan merasa bahwa Cahaya itu muncul karena upayanya.

“Cahaya-cahaya para Sufi mendahului wacananya. Ketika Cahaya muncul maka muncullah wacana” Para Sufi dan arifun berbicara dan berwacana, bukan karena aksioma logika, tetapi karena limpahan Cahaya, baru muncul menjadi mutiara kata. Sementara para Ulama, wacananya mendahului cahayanya.

“Ada Cahaya yang diizinkan untuk terbiaskan, ada pula Cahaya yang diizinkan masuk di dalam jiwa.” Ada Cahaya yang hanya sampai di lapis luar hati, tidak masuk ke dalam hati, sebagaimana orang yang menasehati tentang hakikat tetapi dia sendiri belum sampai ke sana. Ada Cahaya yang menghujam dalam jiwa, dan dada menjadi meluas, dengan ditandainya sikap merasa hampa pada negeri dunia penuh tipudaya, dan menuju negeri keabadian, serta menyiapkan diri menjemput maut.

“Janganlah anda menginginkan agar warid menetap terus menerus setelah Cahaya-cahayanya membias dan rahasia-rahasiaNya tersembunyi.” Itulah perilaku para pemula, biasanya ingin agar Cahaya-cahaya warid itu menetap terus menerus. Padahal suatu kebodohan tersendiri, karena penempuh akan lupa pada Sang Pencahaya.

“Sesungguhnya suasana keistemewaan itu ibarat pancaran matahari di siang hari yang muncul di cakrawala, tetapi Cahaya itu tidak dari cakrawala itu sendiri, dan kadang muncul dari matahari Sifat-sifatNya di malam wujudmu. Dan kadang hal itu tergenggam darimu lalu kembali pada batas-batas dirimu. Siang (Cahaya) bukanlah darimu untukmu. Tetapi limpahan anugerah padamu.”

“Cahaya-cahaya qalbu dan rahasia jiwa tidak diketahui melainkan di dalam keghaiban alam malakut. Sebagaimana Cahaya-cahaya langit tidak akan tampak melainkan dalam alam nyata semesta” Orang yang mampu memasuki alam malakut adalah yang dibukakan Cahaya-cahaya qalbu dan jiwanya. Begitu juga nuansa pencerahan Cahaya qalbu dan rahasia qalbu itu, merupakan rahasia tersembunyi di alam Malakut.

Dan lain sebagainya, yang menggambarkan soal pencahayaan ini. Karena berbagai ragam, bisa memberikan sentuhan Cahaya, apakah Cahaya qalbu, Cahaya ruh dan Cahaya Sirr yang memiliki karakteristik berbeda-beda dalam kondisi ruhani para hamba Allah.

Mati Selagi Hidup


Hadist Nabi berbunyi :Qoblal mautu anta mautu, yang artinya : matikan dirimu sebelum mati yang sesungguhnya.

Pada saat Inisiasi (Ma’rifat) Guru Murshid mengajarkan cara untuk menarik kesadaran sang siswa dari seluruh tubuh, naik ke pusat mata dimana ia dapat berhubungan dengan Nada Illahi, dan panarikan kesadaran ke pusat mata itu sebagai : mati selagi hidup”.

Bila saat kematian tiba, jiwa kita menarik diri ke atas, mulai dari telapak kaki sampai ke pusat mata. Setelah itu, barulah ia meninggalkan tubuh .Bila jiwa sudah dapat menarik diri ke pusat mata, berulah tubuh tidak mempunyai jiwa lagi dan ia mati, melalui proses yang sama, kita harus menarik kesadaran kita ke pusat mata, selagi hidup kita harus mati selagi hidup, kita harus menghampakan tubuh dan membawa aliran jiwa ke suatu titik, nyaitu diantara dan di belakang ke dua mata. Begitulah “mati selagi hidup”.

Selama kita belum dapat menarik kesadaran kita ke pusat mata dan melekatkannya kepada Roh di dalam, maka kita tidak dapat mati selagi hidup, dan selama kita tidak dapat mati selagi hidup, maka kita tidak dapat memperoleh hidup yang kekal.

Perbedaan paling penting antara kematian biasa dan mati selagi hidup adalah bahwa hubungan jiwa dengan tubuh tidak terputus. Semua organ berfungsi dan jiwa dapat kembali ke dalam tubuh setelah meditasi (Ma’rifat) selesai.“Alangkah bahagianya, seandainya engkau pada suatu malam dapat membawa jiwamu keluar dari tubuh, dan setelah meninggalkan tubuh ini, naik ke alam – alam luhur jika jiwamu telah meninggalkan tubuh engkau akan selamat dari pedang kematian engkau akan memasuki taman yang tidak mengenal musim gugur”.

Bila perhatian bekerja di bawah mata, kita mati terhadap tuhan, namun bila ia menarik diri dan berkumpul di pusat mata, kita akan hidup terhadap tuhan dan mati terhadap dunia.

Bila mereka melihat Cahaya itu, bila mereka mendengar Nada itu di dalam. Kita ini semua buta, tuli dan lumpuh, secara rohaniah kita ini seperti mati, bila mata rohani terbuka, kita akan sungguh sungguh melihat, mendengar, hidup dan langsung menempuh jalan pulang ke Tuhan.

Sebelum kita memperoleh penghayatan itu, kita tidak melihat Tuhan. Siapakah yang buta.

Orang yang tidak dapat melihat sesuatu yang ada di hadapannya. Kita semua tahu bahwa Tuhan bersemayam di dalam diri kita semua, Ia ada di dalam setiap partikel ciptaan, namun kita tidak melihat Dia – di dalam maupun di luar.

Itulah sebabnya para guru menyebut kita buta, bila mata rohani dan telinga rohani terbuka, kita akan melihat Cahaya dan mendengar Nada, nyaitu musik surgawi yang dapat membangkitkan orang mati. Guru berkata :Lihatlah tampa mata, dengarlah tampa telinga, berjalanlah tampa kaki, bekerjalah tampa tangan, berbicaralah tampa lidah. Dengan demikian matilah selagi hidup dan hayatilah sabda Nabi “ Qoblal mautu anta mautu” Setelah itu, barulah Engkau akan bertemu dengan sang Kekasih.

Bila bimbingan seorang Guru, kita ahirnya mencapai tujuan akhir di alam terluhur melalui konsentrasi dengan penuh kasih dan kebaktian dan bersatu dengan tuhan. Kemudian kita akan mati untuk hidup selama - lamanya.Semua orang Suci menekankan pentingnya untuk menarik kesadaran ke pusat mata dan masuk ke dalam. Mereka semua mengerjakan bahwa meditasi (Ma’rifat) adalah sekedar latihan untuk mati, agar dapat hidup selama-lamanya. Ajaran mereka mengungkapkan hal itu sejalas jelasnya , seperti yang dinyatakan oleh kutipan kutipan berikut ini :

Di dalam Al-Quran dikatakan, “Matilah sebelum saat kematian “Atau perkatan Bapak ( A. Hada)“Hari ini Kunjungilah tempat yang akan datang, Rumah setalah kematian”

Atau, dengan perkataan lain :“Rumah yang ingin kau kunjungi setelah kematian, dapatkan itu dengan jalan mati selagi hidup Selama engkau tidak mati selagi hidup bagai mana engkau dapat memperolah manfa’at yang sejati ? karena itu matilah, tinggalkanlah tubuh.

Wahai manusia engkau telah mati berulang kaliMengapa engkau ingkar kapada Alloh padahal dulunya kamu mati lalu Alloh menghidupkan kamu kemudian Dia mematikan kamu kemudian menghidupkan kamu kembali, lalu kepadanya kamu di kembalikan.(Al-Baqarah surat 2 Ayat 28)

Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya, dan seperti demikianlah kamu akan di keluarkan. (Al-Ruum Surat 30 Ayat 19)

Alloh yang menciptakan kamu, kemudian memberi Rezeki kapada kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu. Adakah dari sesembahan kamu ada yang dapat berbuat sesuatupun dari demikian ? Maha suci Dia dan Maha Tinggi dari apa saja yang mereka sekutukan. (Al-Ruum Surat 30 Ayat 40)

Namun engkau tetap tinggal di belakang tirai Karena cara untuk mati sejati tidak kau pelajari.

Para Suci (Nabi) datang ke dunia ini dengan Rakhmat dan karunia tuhan, mereka tidak datang untuk menjadikannya tempat yang lebih baik maupun memperbaiki nasibnya, melainkan untuk membebaskan kita dari belengu kemelekatan dan memalingkan perhatian kita kepada Tuhan.

Mereka datang untuk membutakan kita terhadap dunia dan memberikan penglihatan untuk menghayati Tuhan.

Jika bukan kerunia-Nya, kita tidak mungkin akan memikirkan tentang perpisahan kita dari Tuhan, dan kita pun tidak akan rindu untuk pulang. Tampa karunia-Nya, kita tidak akan bertemu dengan Guru Murshid dan mengikuti jalan.

Dengan karunia-Nya, kita memperkembangkan kepercayaan kita kepada Guru Murshid. Dengan karunia-Nya kita berusaha untuk berlatih untuk melakukan meditasi (Ma’rifat). Karunia bimbingannya selalu menyertai kita.Dengan karunia-Nya, kitya dapat memahami identitas Guru Murshid yang sesungguhny, nyaitu firman yang menjadi manusia. Dan dengan karunia-Nya kita dapat pulang ke tingkat Tuhan dan bersatu denganya. Kita benar-benar telah menggenapi tujuan hidup manusia ini.

Kita tidak lagi terpisah dari sumber kita dan pulang ke rumah abadi kita yang penuh dengan ketenangan dan kebahagiaan dan menjadi satu dengan Tuhan kita, untuk selama-lamanya. (Innalilahi Wainna ilaihi roji’un)

Minggu, 17 Juni 2012

Pikirkan Apa Yang Sedang, Akan dan Yang Telah Terjadi



Kita semua butuh bantuan Ilahiah. Kita telah sampai pada suatu waktu dimana manusia seharusnya berpikir apa yang telah, sedang dan yang akan terjadi. Ada sebuah lagu dalam bahasa Turki : Ey yolcu biraz dinle beni, kervan geciyor, sen kalma geri. Wahai para pencari, dengarkan aku. Kafilah segera lewat, jangan sampai ketinggalan. Lagu ini dibuat dengan rasa akan surgawi. Ada lagu-lagu yang bertemakan duniawi dan ada yang bertemakan spiritual.


Kalian bisa lihat sekarang ini 100% atau paling tidak 99% lagu-lagu bertemakan materialisme dan mereka semua menikmatinya. Kaum muda saat ini tertarik dengan apa ? Musik pop, yang bertemakan tubuh-tubuh fisik, tak ada yang lain. Tema yang kedua adalah tentang rohani kita dan mungkin hanya 1% atau kurang, atau ¼% kita jumpai orang-orang yang tertarik akan spiritualitas dan lagu-lagunya.


Bagi semua agama, dari awal sampai akhir, musik untuk kepentingan fisik adalah hal terlarang, tak diragukan lagi. Kenapa ? Karena lagu-lagu materialisme mencabut diri kita dari spiritualitas dan menenggelamkan kita pada kegelapan. Musik-musik seperti itu dilarang, bagaimanapun juga. Segala sesuatu yang menarik manusia dari spiritualitas adalah terlarang. Itulah aturan pokoknya, alasan nyata dari segala sesuatu yang dilarang adalah karena hal itu mencabut diri kita dari Tuhan. Dan hal itu tidak akan pernah berubah dari manusia pertama, nabi pertama sampai terakhir. Ada sabda dari Rasulullah, Nabi penutup saw ; ‘Ad-dunya ma’ulatun’, – Dunia itu dilaknat. Kenapa ? Karena dunia memenuhi pikiran hamba-hamba Tuhan dan menjauhkan mereka dari pengabdian pada Ilahi dan memperbudaknya.


Itulah poin utama yang harus dikenal, tidak boleh ada keberatan sekarang, sebelum dan setelahnya. Dari timur sampai barat, Kristen, Yahudi dan Muslimin. Jika Nabi mengatakan bahwa dunia itu dikutuk, maka semua yang ada didalamnya juga dikutuk, karena menjauhkan hamba-hamba dari tujuan utama mereka dalam eksistensi. Tujuan utama Allah menciptakan kalian, wahai manusia ! adalah untuk pengabdian, pelayanan Ilahiah. Jika kalian menjauhi hal itu, maka kutukan akan menimpa kalian.


Lewat segala aktifitas dan perilaku manusia, ada yang di ridhai dan ada yang dikutuk – tak ada kemungkinan yang lain. Keseimbangan itu tidak pernah berubah. Seratus Paus, seribu uskup tak bisa berkata-kata. Mereka harus berpikir tentang misi Muhammad saw.
Apa tugas beliau ? Mereka harusnya berpikir seperti ini : kemanakah Nabi mengajak umatnya ? Quran Karim adalah saksinya, dikatakan : ‘Wa Allahu jadau ila Dar-us-Salaam.’ Nabi Penutup mengajak orang-orang menuju surga yang abadi, menuju Allah. Tidak ada agama asli yang berdiri melawan Islam, Islam yang asli yang dibawa oleh Nabi. Beliau bersabda : “Aku memanggilmu untuk kembali pada Allah.” – beliau juga mengatakan : “Dunya itu dilaknat.”


Dunya tak akan pernah meninggalkan manusia dalam pelayanan pada Tuhannya, namun dunia meminta manusia untuk menjadi hamba dan bahkan budaknya. Manusia seharusnya menjadi hamba Tuhan, karena penghambaan memberi kehormatan pada manusia. Tuhan tidak pernah mengatakan : budak-Ku, karena budak bukanlah status yang terhormat. Budak tidak punya nilai dalam suatu masyarakat, bisa di jual ataupun di bunuh. Walaupun 1% tak ada penghormatan bagi budak, tingkatan terendah bagi manusia.


Penting untuk berpikir akan hal ini : Apa yang sedang saya lakukan ? Siapa saya ini ? Dan ada dua bendera yang berkibar ; satu bendera suci milik Tuhan Surgawi, dan yang kedua milik kerajaan setan. Kalian dipersilakan memilih antara dua bendera itu, dibawah bendera yang mana saya ini ?


Wahai manusia, saya memulai dengan nasehat bertema lain namun mereka membawaku ke tema ini, dan ini amat penting. Sangat penting untuk dikenal oleh berbagai bangsa, sebagaimana misi utama umat manusia di bumi ini adalah untuk menjadi sangat terkenal. Laki-laki dan wanita pertama yang mendarat di bumi ini juga punya misi utama, begitu pula setan yang mendarat di bumi. Adam telah diampuni dan diberkahi namun setan tidak memohon ampun, sehingga dia di kutuk. Setan turun ke bumi bersamaan dengan Adam, namun setan membawa sifat-sifat buruknya.


Sekarang tiba peperangan melawan agama-agama, perang antara kerajaan setan dan kerajaan surgawi. Dan kita telah diminta bantuan demi kerajaan surgawi. Yang pasti Allah swt akan mendukung mereka yang mendukung kerajaan surgawi. Bahkan bila hamba-hamba kerajaan surgawi tidak punya bekal apapun dan sebaliknya pendukung kerajaan setan memiliki segala kemungkinan dan bergantung pada tehnologi, hal itu tak berarti apa-apa, semua akan menjadi debu. Dan kita sekarang sedang menuju saat itu.


Wahai kaum beriman, datanglah untuk mendukung kerajaan surga ! Sebenarnya kerajaan surga tidak membutuhkan dukungan kalian, namun kalianlah yang membutuhkan mereka. Dan bila kalian mendukungnya, maka Allah akan mendukung kalian.
DIA tidak butuh apapun dari hamba-hamba-Nya, namun dengan kehormatan dan perlindungan, ampunan dan barokah akan menyertai kalian. Karena niat kalian menjadikan kerajaan surga naik, maka kalian akan di tingkatkan pula. Siapapun yang menginginkan kerajaan surgawi ambruk, maka mereka sendiri akan turun dan semakin ambruk selamanya.
Semoga Allah mengampuni kita, Engkaulah Sultan Abadi. Tingkatkan kehormatan Nabi terkasih-Mu saw dalam kehormatan abadi. Fatiha.

Makna Spiritual dari Mu’jizat Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw



Maulana Shaykh Hisham Muhammad Kabbani


Dinaikkan di Malam Hari, Bercahaya Bagaikan Bulan Purnama

Allah swt memperjalanankan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil al-Aqso, kemudian mengangkat beliau saw dari Masjid al-Aqsa dengan cara Mi’raj, menuju Hadirat Ilahiah-Nya. Mengapakah Allah menggunakan kata-kata, ‘laylan – pada suatu malam’? Mengapa Ia tidak berkata, naharan, pada suatu siang’? ‘Laylan’ di sini mengilustrasikan kegelapan dari dunia ini, ia menjadi bercahaya hanya oleh bulan yang berkilau dari Nabi saw yang terbit untuk menerangi semua kegelapan.

“Subhan al-ladzii asraa bi ‘abdihi laylan”. “Maha Suci Ia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…” Lihatlah pada setiap kata dari ayat suci ini. Pertama-tama Allah memuji Diri-Nya sendiri dalam bentuk orang ketiga, in absentia. Allah kemudian secara ajaib memindahkan Nabi dari Makkah menuju Masjid al-Aqsa (asra’). Kemudian Ia mengacu Nabi sebagai “’abd – hamba”, memberi beliau kehormatan melalui gelar tertinggi itu sebagai seseorang yang terkait dengan kehidupan spiritual, bukan kehidupan hewani.

Risalah Nabi Muhammad saw melengkapi dan menyempurna kan baik disiplin fisik dan hukum (syari’ah) dari Musa as maupun spiritualitas (ruhaniyya) dari ‘Isa as. Syari’ah dari Musa as berkaitan dengan kehidupan duniawi ini, sedangkan spiritualitas ‘Isa as terkait dengan kehidupan surgawi. Dengan melalui dan melampaui kehidupan duniawi, yang diwakili oleh Isra’ (Perjalanan Malam), menuju kehidupan surgawi, yang diwakili oleh Mi’raj, Nabi saw dibawa di atas kedua sayap ini. Tak seorang pun Nabi dibawa dalam kedua dimensi ini kecuali Junjungan kita, Sayyidina Muhammad saw.

Tahapan-tahapan Tasawwuf

Dalam Ilmu Pensucian Jiwa, Tasawwuf, tahapan-tahapan tersebut dinamai dengan Syariah, Tariqat, dan Haqiqat. Tahapan pertama terkait dengan bidang disiplin fisik, dari mana seorang pencari kemudian bergerak dalam “Jalan”, Tariqah, dengan kendaraan ubudiyyah, penghambaan dan ibadah, dan kemudian naik menuju maqam haqiqat, realitas, di mana seluruh kebatilan dan kepalsuan punah, lenyap, dan Ketuhanan Allah dinampakkan secara nyata pada sang hamba.

Allah membawa Nabi Muhammad saw ke Masjid al-Aqsa di Palestina, di mana hampir seluruh Nabi menyambut beliau. Di sana beliau menjumpai seluruh para Nabi berkumpul, dan mereka melakukan salat secara berjama’ah di belakang beliau saw. Dari sana Allah mengangkat beliau menuju langit, seakan-akan Ia (SWT) berfirman, ‘Wahai Nabi-nabi-Ku! Aku tidak pernah mengangkat seorang pun dari Masjid al-Aqsa seperti aku menaikkan Muhammad saw.’ Ini adalah untuk menunjukkan pada mereka bahwa Mi’raj (naiknya) Nabi Muhammad saw – tidak seperti siapa pun di antara mereka, beliau tidak dibatasi oleh hukum-hukum alam semesta ini.

Kendaraan-kendaraan Nabi Muhammad saw

Salah seorang dari ulama-ulama besar bidang Tafsir Quran, al-‘Ala’i berkata, “Pada Malam Mi’raj Nabi saw menggunakan lima kendaraan yang berbeda-beda. Yang pertama adalah Buraq, suatu makhluk bersayap yang membawa beliau dari Makkah menuju Masjid al-Aqsa. Yang kedua adalah Kenaikan (Mi’raj) yang dengannya Nabi saw mencapai langit dunia ini, as-sama’ ad-dunya’. Ada dua penjelasan untuk Mi’raj: satu, bahwa Buraq membawa Nabi saw ke atas, dan yang kedua, bahwa sebuah tangga’ turun dan menaikkan Nabi saw dengan amat cepat.

Kendaraan ketiga adalah sayap-sayap para Malaikat yang membawa Nabi saw hingga langit ketujuh. Kendaraan keempat adalah sayap-sayap Jibril (as) yang membawa beliau saw dari langit ketujuh menuju Sidrat al-Muntaha, ‘Pohon Lotus Terjauh’. Kendaraan kelima adalah suatu karpet (ar-raf raf) yang membawa beliau saw hingga maqam ‘dua ujung busur panah qaba qawsayn.’ [QS 53:9].”

“Serupa dengan itu, Nabi saw berhenti pada sepuluh maqam yang berbeda: tujuh langit dan yang kedelapan di Sidrat al-Muntaha. Yang kesembilan adalah tempat di mana beliau mendengar suara dari pena-pena Malaikat yang tengah menulis amal perbuatan manusia, dan maqam kesepuluh adalah di ‘Arsy (Singgasana). Wallahu A’lam, dan Allah-lah yang lebih tahu.”

Wa min allah at taufiq
wassalam

Rahasia Malam Isra’ dan Mi’raj: Khamisul Quran dan Awliya’ullah



 Mawlana Shaykh Hisham Kabbani

[Dari catatan Suhbat Grandsyaikh ‘Abdullah Daghestani]

A’uudhu billahi minash shaythanirrajiim
Bismillahirrahmanir rahiim
Nawaytul Arba’in, nawaytul I’tikaf, nawaytul khalwah, nawaytus suluk, nawyatul uzlah, nawaytur riyadah, lillahi ta’ala l-‘azhiim fi hadzal majlis
Athi’ullaah wa athi’ur Rasul wa ulil amri minkum!

Ini adalah catatan dari suhbat Grandsyaikh 40 tahun yang lalu. Saat itu, Mawlana Syaikh Nazim menerjemahkan suhbat beliau dari bahasa Turki ke bahasa Arab di Damaskus.

Shaykh Sharif: “Apakah ini tulisan tangan Anda?”
Mawlana Shaykh Hisham: “Ya”.

Saya punya kira-kira 40 buku catatan seperti ini. [Allah Allah]

A’uudhu billahi minash shaythanirrajiim
Bismillahirrahmanir rahiim
Kita telah menjelaskan sebelum ini bagaimana Allah SWT mengundang Nabi kita Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam. pada malam Laylatul Isra’ wal Mi’raj untuk suatu tujuan tertentu. Allah berkehendak untuk memberikan sesuatu sebagai hadiah bagi beliau. Sebagaimana Allah SWT berdialog dengan Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam, maka saat itu terdapat tiga macam tingkatan yang beliau lalui:

1. Tingkatan dari Jibril ‘alayhissalam ke bawah
2. Tingkatan Jibril ‘alayhissalam
3. Tingkatan dari Jibril ‘alayhissalam ke atas

Pada malam Mi’raj itu, Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam mencapai suatu tingkatan di mana Jibril ‘alayhissalam pun berkata pada beliau, “Yaa Rasulallah, aku tak dapat pergi lebih dari batas ini”. Kalian tahu tentang ini ‘kan. Itu artinya ada tingkatan di bawah tingkatan ini, dan ada pula tingkatan di atas tingkatan ini. Jadi, ada tiga tingkatan yang berbeda. Apa-apa yang berada dari tingkatan tersebut, yaitu maqam Jibril ke bawah, apa-apa yang berada di bawah Sayyidina Jibril, dikaruniakan kepada seluruh ummat ini, Ummat Muslim, bagi setiap orang. Dan Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam pun, membacakan Al Quran dari tingkatan itu ke bawah. Karena (Al Quran) yang kita dengar saat ini, kita tidaklah mendengarnya langsung dari bacaan Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam. Bacaan siapakah yang kita dengar? Bacaan Imam. Kita tidak mendengar langsung dari Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam. Siapakah yang mendengar Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam secara langsung? Hanya para Sahabat. Artinya, bacaan Quran itu dibacakan oleh Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam kepada para Sahabat, kemudian para Sahabat membacakannya kepada para Imam, dan para Imam membacakannya kepada [pengikutnya… ] dan seterusnya. Kita pun mendengarkan bacaan imam, setelah bertahun-tahun kemudian. Apakah kemudian kalian mengira bahwa apa yang dibacakan Nabi kepada para Sahabat sama dengan apa yang dibacakan para Imam kepada kita? Apa yang keluar dari mulut suci Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam dipenuhi dengan cahaya berkilau, penuh dengan kekuatan, penuh dengan mu’jizat, dengan segala penafsirannya, dengan segenap rahasia-rahasianya dari tingkatan Jibril ke bawah. Jadi apa yang para Sahabat dengar secara langsung dari Nabi berbeda dengan apa yang kita dengar. Sekalipun kata-kata atau susunan kalimatnya mungkin sama, tapi penafsirannya berbeda. Karena itulah mengapa Ibn ‘Abbas, salah seorang sahabat yang juga adalah salah satu mufassir (penafsir) Quran terbesar, dapat menjelaskan bagaimana ayat-ayat tersebut diwahyukan.

Jadi Grandsyaikh, semoga Allah SWT memberkati ruhnya, mengatakan bahwa apa yang diberikan Allah SWT kepada Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam, kita tidak mendengarnya. Bahkan sebelum ini, para Imam pun tidak mendengarnya. Kita (termasuk para Imam) mendengar apa yang dibacakan oleh para Sahabat bagi diri kita. Para Imam, seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah (mendengarnya dari Sahabat). Imam Syafi’i dan Imam Hambali datang kemudian. Mereka pun tidak mendengar langsung dari sahabat, melainkan mendengarnya dari para tabi’in yang datang setelah para Sahabat. Dan saat ini, apa yang kita dengar di masjid-masjid hanyalah tinggal kata-kata, bukan makna sejatinya.

Jadi, inilah yang disampaikan oleh Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam bagi setiap orang. Pada tingkatan Sayyidina Jibril ‘alayhissalam, tak seorang pun mengetahuinya kecuali Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam, dan beliau menyampaikannya pada Awliya’ullah. Beliau sallalLahu ‘alayhi wasallam memberikannya kepada para pewarisnya. Sebagaimana beliau memberikannya kepada para Sahabat, beliau memberikannya pula kepada para pewaris beliau. Karena itulah Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam bersabda dalam suatu hadits terkenal, “Ashaabii kan Nujuum, bi ayyika ihtadaytum, ihtadaytum” “ Para sahabatku adalah bagaikan bintang-gemintang. Pada siapa pun dari mereka, kau berusaha untuk mengikutinya, maka kau pun akan terbimbing”
Awliyaullah juga bagaikan bintang gemintang. Tidak hanya ada satu orang wali. Ada 124.000 Wali Allah yang Allah SWT tunjuk dan karuniakan bagi Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam. Saat Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam melakukan perjalanannya di Laylatul Isra’ wal Mi’raj, Allah SWT menunjukkan pada beliau, seluruh ummat, dan berfirman, “Yaa Rasuulallaah, Yaa Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam, inilah ummatmu.” Dan saat Allah menunjukkan pada Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam, Ummah beliau, Ia SWT menunjukkan keadaan mereka yang suci, sebagaimana keadaan saat Ia menciptakan mereka. Karena itulah disebutkan dalam suatu hadits bahwa Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Yuuladul insaanu ‘alal Fitrah” “Manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan murni”. Mereka tak memiliki dosa apa pun. Saat seorang anak dilahirkan, ia dilahirkan dengan Iimaan. Setiap anak dalam keadaan beriman, tak peduli apa pun latar belakangnya. Latar belakangnya baru muncul kemudian, ketika ia menjadi beragama ini, atau beragama itu, dan ini bukan di saat permulaan. Pada saat permulaan, ia dilahirkan dalam keadaan suci dan murni.
Sebagaimana keadaan masa kini, saat mereka beranjak berumur 12, 13 atau 14 tahun, mereka mulai tidak menyukai orang tuanya. Mereka akan berkata padamu, “Oh, kamu terbelakang!” . Mereka mengatakan seperti itu pada setiap orang. Mereka tak mau mendengar siapa pun. Mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Mereka melakukannya di jalanan. Tetapi, sebenarnya saat mereka masih muda belia, mereka masih murni. Iya ‘ kan ? Saat mereka mulai tumbuh dewasa, mereka melarikan diri. Tetapi, setelah beberapa saat kemudian, mereka menjadi makin matang, dan berkata, “Ooh, kami berbuat kesalahan”, lalu mereka pun kembali.

Serupa dengan itu, saat kita diciptakan, kita diciptakan dalam keadaan suci dan murni, di saat hari Perjanjian, saat Allah SWT menciptakan arwah seluruh manusia dari cahaya Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam, yang muncul dari Cahaya Allah SWT. Allah SWT menciptakan Nabi dari Cahaya Langit, Nur Surgawi. Karenanya, semua orang adalah suci dan murni. Tak seorang pun, melainkan ia dalam keadaan suci. Karena itulah, ketika di Hari Perjanjian, Allah SWT berfirman (kepada arwah seluruh manusia), “Bukankah Aku adalah Tuhan kalian?” Setiap orang pun menjawab, “Benar, Yaa Rabbii, Engkau adalah Tuhan kami!” Setiap orang menerimanya.

Jadi, Ummah ini yang dikaruniakan Allah SWT bagi Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam adalah suci bersih. “Inilah Ummatmu! Apakah kau menyukai mereka?” “Yaa Rabbii, aku bahagia dengan mereka.” Maka, kemudian setelah Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam menerima mereka, Allah SWT pun menaruh mereka dalam ‘perangkap’-Nya, dan berfirman, “Aku akan memberikan mereka (padamu) setelah Aku mengambil mereka (darinya)”. Dan Ia SWT pun memperlihatkan betapa banyak dan betapa beragam dosa yang akan mereka perbuat di dunia ini. Tak seorang pun bersih, setelah ia melewati dunya. Setiap orang mulai melakukan sesuatu yang Allah tak menyukainya. Mereka tidak salat, mereka tidak berpuasa, mereka tidak mengatakan yang benar, mereka menipu, berbuat konspirasi di sana, dsb. Allah SWT menunjukkan pada Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam, apa yang akan mereka lakukan (di dunia). Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam pun memohon, “Yaa Rabbii, karuniakan padaku penolong-penolong! Mereka yang akan membantuku melakukan apa yang mesti kulakukan.” Dan Grandsyaikh berkata bahwa Allah SWT pada malam Laylatul Mi’raj itu memberikan bagi Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam, 124.000 Wali. Tidak hanya seorang Wali, tapi 124.000. Dan mereka berada pada tingkatan yang berbeda-beda. Tetapi, semuanya adalah Wali. Dan (Alhamdulillah) kita mempunyai Wali pada tingkatannya yang tertinggi, Sulthanul Awliya’, Grandsyaikh ‘Abdullah Faiz Daghestani, semoga Allah memberkati ruh beliau, dan saat ini, Sulthanul Awliya’ Sayyidina Syaikh Muhammad Nazim ‘Adil Al-Haqqani, semoga Allah mengaruniakan bagi beliau umur panjang.

Tetapi, ada banyak Awliya’, dan sesuai dengan tingkatannya, Allah pun menempatkan mereka pada tempat-tempat yang berlainan di segenap penjuru dunia ini, agar mereka dapat menjaga Ummah ini tetap suci dan bersih dalam 24 jam. Allah SWT membagi-bagi Ummat ini pada mereka. Wali yang itu memiliki 100.000. Wali yang lain punya 1 juta, wali yang satunya lagi…., dst. Sekalipun kalian mungkin tidak mengenali mereka. Mereka tidak hadir pada majelis ini, misalnya. Mereka tidak berada di sini. Mereka tidak mengikuti majelis ini. Tapi melalui ruh-ruh, ada orang yang diperuntukkan bagi Wali yang dapat menghubungi mereka lewat mimpi-mimpi, atau menjalin kontak dengan mereka lewat penampakan atau wujud yang berbeda, lewat bentuk-bentuk yang berlainan. Sang wali dapat saja berada di sini, dan dapat pula berada di Cina. Kalian tak tahu tentang itu. Awliya’ullah dapat berada di beberapa tempat berbeda pada waktu yang sama. Kalian pernah melihatnya?

Suatu waktu, Mawlana Syaikh Nazim tengah berada di Lebanon . Perdana Menteri Lebanon saat itu mengunjungi beliau, dan juga walikota Tripoli. Saat itu saya berada di sana . Sang gubernur dan perdana menteri hendak berangkat pergi Haji, dan mereka berkata, “Wahai Syaikh Nazim, mari berangkat bersama kami.” Beliau menjawab, “Tidak, mungkin saya tidak dapat berangkat.” Saat itu mereka tiba di Tripoli , dan berada di situ 2-3 hari untuk (persiapan) Haji. Mawlana berkata, “Tidak, saya tidak pergi.” Mereka pun berangkat menunaikan ibadah Haji mereka hingga pulang kembali. Saat mereka pulang kembali ke Lebanon , mereka tahu bahwa Syaikh Nazim masih berada di Tripoli . Mereka pun memutuskan untuk mengunjungi beliau. Dan mereka berkata, “Wahai Syaikh, Anda datang (ke Tanah Suci) sebelum kami datang.” Dan setiap orang, yang tengah duduk di situ pun terkejut. Kami semua terkejut. Mawlana Syaikh Nazim tak pernah meninggalkan Tripoli . Dan mereka pun bercerita, bahwa ketika mereka tiba di Tanah Suci, dan hendak menunaikan Thawaf, mereka menjumpai Mawlana Syaikh Nazim tengah melaksakanan Thawaf. Mereka pun mendatangi Mawlana, dan menunaikan Thawaf mereka bersama Mawlana. Kemudian mereka melanjutkan menunaikan sa’i, yaitu Sa’i Qudum dengan beliau. Sa’i di antara Safa dan Marwa. Lalu Mawlana berkata, “Aku akan pergi dengan orang-orangku.” Beliau pun meninggalkan mereka. Padahal Mawlana tak pernah beranjak dari Tripoli saat itu.

Jadi, ada Awliyaullah yang seperti itu. Mereka dapat bergerak menembus waktu dan mereka pun dapat muncul dengan citra yang berbeda, dan masih ada pula citra atau penampakan lain yang muncul di tempat yang berbeda. Mereka harus membersihkan seluruh Ummah ini dalam 24 jam. Dan ke-124.000 Wali ini, jika salah satu di antaranya wafat, akan ada orang lain yang akan menggantikannya. Jadi, sebenarnya tidak hanya terdapat 124.000 Wali. Pada kenyataannya, ada lebih daripada jumlah itu. Tapi, dalam suatu waktu tertentu, ada 124.000 Wali yang hidup di masa itu.
Jadi, pada malam itu (malam Mi’raj), Allah SWT mengaruniakan pada Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam, para penolong ini. Kemudian Allah pun berkata, “Yaa Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam,….”

Ini terjadi di atas maqam Sayyidina Jibril ‘alayhissalam, saat Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam pergi sendiri, ketika Jibril mengatakan pada beliau, “Aku tak dapat menyertaimu lagi.” Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam pun melaju terus, dan pada malam itu, malam Mi’raj, setelah melewati maqam Sayyidina Jibril, setelah Allah membukakan bagi beliau apa-apa yang berasal dari tingkatan Jibril, dari rizqi / bagian Sayyidina Jibril ke bawah, berupa Al Quran Suci; setelah itu pun, Allah SWT mengaruniakan pada beliau keseluruhan dari Al Quran Suci. Saat beliau sallalLahu ‘alayhi wasallam mulai bergerak dari maqam Sayyidina Jibril ‘alayhissalam dan seterusnya, Allah SWT memberikan bagi beliau sallalLahu ‘alayhi wasallam, apa yang Ia sebut bagi beliau, “Khamisul Quran”. Khamisul Quran, apa itu artinya? “Bagian kelima dari Quran.” Apa makna Khamisul Quran? Bukan berarti suatu buku/kitab yang diberikan Allah SWT. Ia SWT telah mewayukan pada beliau Quran Suci, tapi... sebagaimana kita ketahui ada empat kitab suci: Zabur (Psalms), Taurat, Injil (Bible), dan Al Quran. Benar? Jadi, Khamisul Quran, bagian kelima, adalah Rahasia dari Al Quran Suci. Allah membukakan bagi Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam, seluruh Samudera-Samudera dan Rahasia-Rahasia dari Quran Suci. Karena tak seorang pun mampu memahaminya selain Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam.

Inilah yang cita rasanya para Awliya’ullah usahakan untuk diberikan pada kita, ya dari Khamisul Quran tadi. Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam mewariskan pada para Sahabat beliau, rahasia tersebut. Beliau sallalLahu ‘alayhi wasallam mewariskan pula rahasia tersebut pada Awliyaullah, tetapi tidak ada izin untuk membukanya hingga masa munculnya Sayyidina Mahdi ‘alayhissalam. Beliau (Sayyidina Mahdi) akan muncul di Akhir Zaman nanti dengan sesuatu…eeh, bukan makna baru, tetapi pemahaman-pemahaman baru, dengan rahasia-rahasia yang berada di balik ayat-ayat Al Quran yang suci. Muhyiddin Ibn ‘Arabi, Abu Yazid al-Bisthami, Sulayman as-Saqathi, Sari As-Saqthi, Junayd al-Baghdadi, semua Awliya’ ini, juga Sayyidina Shah Bahauddin an-Naqshabandi, yang dapat kalian hitung semua…. Juga para Sahabat Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam. Keseluruhan dari mereka, berusaha memberikan cita rasa ini, dan orang-orang pun tak dapat menerimanya. Sayyidina Abu Hurayrah r.a. apa yang beliau pernah katakan? Beliau adalah seorang Muhaddits [‘Aalim Ahli Hadits, periwayat Hadits Nabi] terbesar. Beliau meriwayatkan lebih dari 3000 hadits dari Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam. Apa yang pernah beliau katakan? Beliau pernah berkata, “Hafiztu min Rasuulillaahi sallalLahu ‘alayhi wasallam wi’a-ain. Fa-ammaa ahaduhumaa fabatstsatstuhuu bil khalq, wa ammal aakhar, law batstsatstuhuu la-quthi’a haadzal bul’uum.” “Aku mengingat dari Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam dua jenis pengetahuan. Yang satu kusebarkan pada setiap orang. Yang lain kusimpan sendiri, karena seandainya aku mengatakannya, tentulah mereka akan memenggal leherku.”

Mengapa mereka akan memenggal lehernya? Siapakah yang akan memenggal leher Abu Hurayrah? Para Sahabat (lainnya)! Itu artinya, Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam memberikan hal yang berbeda-beda bagi setiap orang. Apa yang beliau sallalLahu ‘alayhi wasallam berikan bagi Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq berbeda dengan apa yang beliau berikan bagi Sayyidina ‘Ali, dan berbeda lagi dengan apa yang beliau sallalLahu ‘alayhi wasallam berikan bagi Sayyidina ‘Umar. Kepada setiap orang, Allah SWT mengaruniakan cita rasa yang berbeda dari Rahasia itu.

Jadi Awliyaullah, kini, mereka membawa cita rasa itu. Tapi, ini bergantung dari orang yang mendengarkan merka, bergantung pada siapa yang menghadiri majelis mereka. Jika orang-orang yang menghadiri majelis mereka masih di bawah kendali ego mereka, rahasia atau cita rasa semacam ini tak akan pernah dibukakan bagi mereka. Sang Wali tak akan membuka rahasia itu. Karena itulah,kita dapat melihat perbedaan antara Suhbat/pengajaran Mawlana Syaikh Nazim yang diberikan sebelum ini, dengan yang beliau berikan saat ini. Sebelum ini, Mawlana Syaikh Nazim biasa memberikan kuliah-kuliah yang amat dalam. Saat ini, kuliah Mawlana Syaikh Nazim sebagian besar hanya berbicara masalah ego. Beliau berusaha untuk meluruskan orang-orang, untuk membimbing mereka menuju jalan yang benar, menuju Shirathal Mustaqiim, ke Jembatan yang Lurus. Karena beliau dapat melihat dan mengamati bahwa qalbu-qalbu yang ada di depan beliau tidak siap untuk memikul rahasia-rahasia ini. Sebelumnya, beliau biasa berbicara dari tingkatan dan maqam yang tinggi. Terkadang, saat beliau duduk dengan beberapa orang tertentu, dan Allah membukakan untuk… adanya izin, kalian dapat melihat pengetahuan macam apa yang beliau ucapkan. Kalian akan tertegun mendengarnya. Karena, Rahasia-rahasia tersebut, yang Allah karuniakan bagi Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam, pada Laylatul Mi’raj, Grandsyaikh berkata bahwa Allah membukakan pada beliau sallalLahu ‘alayhi wasallam, Rahasia-Rahasia Al Quran, manifestasi- manifestasi, dan tajalli (penampakan) dari 99 Nama (Asmaul Husna, red.) yang tak seorang pun menyamai beliau dengan apa yang Allah SWT bukakan bagi beliau, Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam. Hanya bagi Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam. Tapi, apa yang telah Nabi sedikit berikan, itu bukan berarti menyamai beliau, melainkan itu berarti beliau mewariskannya.

Dari tajalli 99 Nama, itu berarti Allah SWT mengaruniakan pada Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam, Samudera-Samudera Nama-Nama ini, yang tak seorang pun mengetahui awal maupun akhir dari setiap Samudera Satu Nama!

Seluruh Alam Semesta ciptaan ini hanyalah berada di bawah tajalli satu nama: Ar-Rahman! Seluruh alam semesta ini, yang kita tengah hidup di dalamnya, sejak penciptaannya hingga Hari Pembalasan berada di bawah tajalli ar-Rahman! Bagaimana menurutmu dengan 98 Nama-Nama yang lainnya? Mereka bahkan belum terbuka, belum termanifestasikan! Tidak hanya itu! Grandsyaikh berkata pula bahwa Allah SWT mengaruniakan pula bagi beliau sallalLahu ‘alayhi wasallam, Ismullah al-A’dzam, Nama Teragung, yang meliputi seluruh Nama-Nama itu. Itu dikaruniakan bagi Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam pada Laylatul Mi’raj.

Para ilmuwan mengatakan bahwa keseluruhan alam ini tercipta milliaran tahun yang lalu. Benar? Semua galaksi yang kalian saksikan ini, 6 milliar galaksi, yang mereka katakan ada sekarang. Dan setiap galaksi memiliki 80 milliar bintang, minimal. Kalian melihat Milky Way, Bima Sakti, juga galaksi-galaksi yang ada di Alam Semesta ini, keseluruhannya bergerak dalam satu arah di ruang angkasa ini. Kalian tak mengetahui ke mana mereka bergerak. Mereka bergerak dengan kecepatan 300.000 km/detik (kecepatan cahaya, red.). Sangat cepat. Dan ruang angkasa ini tanpa batas. Sejak mereka diciptakan, mereka bergerak. Ke mana mereka bergerak? Semua pengetahuan ini Allah SWT karuniakan bagi Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam pada malam Laylatul Isra’ wal Mi’raj. Semua ini diberikan pada Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam pada malam itu.

[Manifestasi] Satu Nama, ya, seluruh alam ini berada di bawah Ismullahir Rahman, dan alam semesta ini tak pernah berakhir meluas, dan melebar. Bagaimana pula dengan 98 Nama-Nama lainnya? Yang belum pernah dibukakan. Grandsyaikh berkata, bahwa saat Mahdi ‘alayhissalam muncul, Allah SWT akan membukakan cita rasa ini bagi Ummat. Dan karena itu pula pada saat itu, ilmu pengetahuan akan ditransfer dan dipindahkan dari orang satu ke orang lainnya lewat mata. Kalian tak perlu lagi saat itu membaca atau mempelajari pengetahuan dan mengingatnya. Itu semua terbatas. Untuk berusaha membaca dan menghafal adalah terbatas. Tapi, dengan menuangkannya melalui kedua mata kalian ke qalbu kalian, dari orang yang satu ke yang lain, melalui pantulan-pantulan (refleksi). Dengan memantulkannya secara sempurna. Apa pun yang dimiliki seseorang, ia akan memantulkannya, dan orang yang lain akan menerimanya, dan memantulkannya kembali, untuk diterima orang yang lain lagi, yang juga akan memantulkannya. Demikian seterusnya, layaknya suatu reaksi nuklir berantai, dari orang yang satu ke yang lain, tanpa henti. Allah SWT akan mengaruniakan seperti itu nanti. [yaitu, pada masa Imam Mahdi ‘alayhissalam, red.].

Cita rasa itu, yang Allah karuniakan pada Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam tak dapat dibayangkan sama sekali. Sebagaimana kalian tak dapat membayangkan Keagungan Allah SWT. Bagaimana pun kalian berusaha memikirkannya, maka Allah SWT tetap Lebih Agung (daripada yang kalian pikirkan, red.). Artinya, apa pun yang kalian pernah bayangkan atau renungkan mengenai pengetahuan yang dimiliki Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam, maka apa yang diberikan Allah SWT bagi beliau, jauh lebih besar dari itu. Setiap ‘saat’ Ia SWT memberikan (bagi beliau). Allah SWT berfirman, “Kullu yawmin Huwa fii sya’nin” “”Setiap saat ada suatu tajalli atau manifestasi/ penampakan yang baru”, dari manifestasi- manifestasi Nama-Nama Indah itu [Al-Asmaul Husna]. Jadi, saat penampakan-penampak an ini terjadi, lebih banyak lagi yang berdatangan. Artinya, sesuai dengan Keagungan Allah SWT, tak suatu apa pun dapat kalian batasi. Selalu berkembang. Dan semua pengetahuan ini selalu berkembang dalam diri Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam, dan dari Nabi kepada Awliyaullah.

Di manakah pengetahuan ini? Mengapa Awliyaulah tidak membicarakannya sekarang?
Tak ada lagi bahasa ruhaniah yang diajarkan kepada para murid. Sangat dibatasi. Karena itulah Mawlana Syaikh Nazim, semoga Allah mengaruniakan bagi beliau umur panjang, berkata bahwa Allah SWT memerintahkan pada Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam untuk memerintahkan Mahdi ‘alayhissalam, untuk mengambil kekuatan dari setiap Wali, dan mengambilnya ke tangan beliau, untuk menjaga kekuatan itu berada pada tangan beliau. Karena tak ada lagi para pengganti untuk Awliyaullah yang kini tengah berwafatan. Pada saat ini, Mawlana Syaikh Nazim berkata, bahwa hampir sebagian besar Para Syuyukh Tariqah wafat, dan Mahdi ‘alayhissalam mengambil kekuatan mereka. Hanya pada Naqshbandi, kekuatan itu belum diambil, masih berada di tangan seorang Wali Besar, Sulthanul Awliya’, Sayyidii Syaikh Muhammad Nazim ‘Adil Al-Haqqani.

Grandsyaikh berkata, bahwa rahasia tariqah itu [Naqshbandi] akan selalu hidup hingga Mahdi ‘alayhissalam, tak pernah berhenti. Dan insya Allah, kita berharap agar Mahdi ‘alayhissalam segera datang, agar kita dapat melihat apa yang Allah SWT karuniakan bagi diri kita.

Grandsyaikh berkata, bahwa yang paling penting adalah agar manusia mengetahui bahwa Allah SWT telah memerintahkan pada Nabi sallalLahu ‘alayhi wasallam, “Yaa Muhammad, kau bertanggung jawab. Aku tidak bertanggung jawab pada Ummah. Kau mengambil mereka dalam keadaan bersih dan suci, maka kau pun mesti mengembalikan mereka pada-Ku dalam keadaan bersih dan suci. Maka, berbicaralah pada mereka menurut apa yang dapat mereka terima.”
“Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa”
“Allah tidak membebani seseorang lebih daripada apa yang dapat ia pikul”
“Hanya sesuai dengan apa yang dapat mereka terima, berikanlah pada mereka. Lebih dari itu, jangan kau tuntut dari mereka!”
Karena itulah kalian melihat saat ini, begitu banyak orang lari. Bahkan ketika mereka melarikan diri, Awliyaullah tetap melakukan amal mewakili diri mereka. Setiap Wali bertanggung jawab atas kelompoknya. Ia bertanggung jawab melakukan apa yang murid-murid mereka tidak lakukan. Bahkan tidak hanya murid-murid yang mengambil bay’ah secara fisik. Tapi, juga bagi mereka yang tidak mengambil bay’ah secara fisik, yang telah dibagikan bagi sang Wali itu di Hari Perjanjian, hingga Sang Wali mengetahui siapa-siapa yang menjadi pengikutnya. Ia pun mesti membersihkan mereka dan mempersembahkan mereka dalam 24 jam, dalam keadaan suci bersih, ke hadirat Sayyidina Muhammad sallalLahu ‘alayhi wasallam.

Berbahagialah! ! Dan berapa kali kami mengatakan, “Berbahagialah!”

Kita akan melanjutkan tentang ini insya Allah.

Berbahagialah, dan jangan khawatir tentang orang ini melakukan ini, orang itu melakukan itu, ada fitnah di sini, fitnah di sana . Siapa yang peduli? Tak usah pedulikan! Jangan berikan telingamu! Di mana pun terjadi fitnah. Fitnah selalu terjadi. Apakah syaitan pernah berhenti bekerja? Sebagaimana Allah SWT sebutkan dalam Quran suci, bahwa syaitan berkata, “… berikan bagiku, umur panjang. Aku ingin agar Engkau, Yaa Rabbii, memberiku umur panjang agar dapat kusesatkan mereka semua.” Allah pun menjawab, “Ya, Aku memberimu umur panjang.” Allah SWT bahkan menerima (du’a) dari Iblis. Kenapa? Apakah Allah tak mampu mengatakan, “Tidak, Aku tak mau memberimu hal itu, dan Kulempar ruhmu ke Neraka!”? Mengapa Allah memberinya hal itu? Ia SWT menerima darinya, saat ia (syetan) memohon pada-Nya. Allah menerima dari ia yang berdosa? Allah menerimanya. Karena Ia SWT ingin menaikkan derajat Ummah ini dan mengaruniakan pahala bagi Ummah ini, saat mereka membantah (bujukan) Iblis.
Jadi, Awliyaulah bertanggung jawab atas pengikut-pengikut mereka untuk membersihkan diri mereka. Jika tidak, tentu mereka akan menjadi tawanan di tangan Syaitan, dan Syaitan akan menang. Di Hari Perhitungan, ia akan berkata, “Yaa Rabbii, ooh, aku menang, aku memiliki lebih banyak dari yang Kau mesti miliki.” Grandsyaikh biasa berkata bahwa jika Iblis dapat menawan satu saja ke sisinya, itu adalah tanda kemenangannya. Karena seorang jenderal dalam suatu pertempuran tak akan membiarkan seorang pun dari pasukannya untuk jatuh ke tangan musuh. Jadi, Allah tak akan pernah membiarkan Iblis untuk menang. Apa pun yang diperbuat Iblis, akan dilemparkan Allah SWT ke mukanya.
“Wa qadimnaa ilaa maa ‘amiluu faja’alnaahaa habaa-an manthuuran”
“Kami lemparkan apa yang mereka perbuat ke muka mereka”
Yang pertama-tama adalah Iblis. Allah akan melemparkan seluruh perbuatannya, saat ia mengejar-ngejar manusia untuk menghancurkan hirup mereka, menyuruh mereka menghisap ini, atau menghisap itu, mengambil hashish, atau apa lagi? Heroine…
[Ecstasy]
Apa itu?
[Obat gaya baru]
Gaya baru? Kau pernah mencobanya? Siapa pernah mencobanya?
Semoga Allah SWT melindungi diri kita.
[Aamiiin. Insya Allah]
Karena kita adalah lemah. Kita memohon Allah untuk melindungi diri kita. Dan Allah Ta’ala melindungi orang-orang, baik laki-laki maupun perempuan yang tulus. Lihatlah, masya Allah, seluruh wanita di sini, mereka amat tulus, memakai hijab/jilbab dengan baik. Tapi, justru laki-lakinya yang tidak tertutup. Beberapa di antara mereka tidak memakai peci. Saya tidak tahu kenapa mereka hanya menekan wanita, dan tidak menekan laki-laki. Haah? Aah, kau di sini [berbicara kepada seorang saudara yang tidak mengenakan peci, red.].
Kau dengar tadi?
[Ya, saya mendengarnya]
Apa yang saya baru katakan?
[Mengapa hanya menekan wanita]
Iya ‘ kan ?
Mengapa hanya memberikan tekanan pada wanita dan tidak pada pria? Pria pun mesti memakai turban. Tapi, kalian tidak memakai turban supaya kalian bisa pergi ke disco.
[Hahaha]

Wa min Allah at-Tawfiq.
Semoga Allah mengampuni diri kita.
Bihurmatil Fatihah!

PENCERAHAN NABI MUHAMMAD SAW DI SIDRATUL MUNTAHA


Tujuan utama perjalanan Isra Mi’raj adalah menghadap Allah Subhaanahu Wataala di suatu tempat di dekat Pohon Sidratul Muntaha, di atas langit ketujuh yang berdekatan dengan Surga. Dituturkan dalam Al Qur’an Surat Al Najm (53:18), di sanalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam menyaksikan sebagian tanda-tanda kebesaran Tuhan.
Muhammad Asad, seorang mufasir Al Qur’an mengungkapkan bahwa Pohon Sidratul Muntaha memiliki makna simbolik. Pohon ini dikenal juga dengan pohon lotus (pohon teratai, bidara atau seroja, yang penuh duri dan biasa terdapat di padang pasir). Sejak zaman Mesir kuno, pohon ini dianggap lambang kebijaksanaan (wisdom). Dengan kata lain, Sidratul Muntaha ialah lambang kebijaksanaan tertinggi dan terakhir, yang tentunya hanya dapat dicapai oleh manusia pilihan, seperti Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam.
Makna simbolik lainnya yaitu kerindangan dan keteduhan yang melambangkan kedamaian dan ketenangan. Jika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam telah sampai ke Sidratul Muntaha, berarti beliau mencapai tingkat kedamaian, ketenangan dan kemantapan yang tinggi
Dalam Kitab Suci juga diterangkan bahwa Sidratul Muntaha berdekatan dengan Surga, negeri kedamaian (Darussalam). Dengan demikian, untuk mencapai Surga tentunya harus berada dalam tahap kebijaksanaan, ketenangan dan kemantapan yang tinggi pula.
Sebelum memperoleh kehormatan menuju Sidratul Muntaha, di Masjidil Haram, Malaikat Jibril dan Malaikat Mikail Alaihissalam terlebih dahulu membersihkan hati Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dengan air zam-zam untuk melapangkan dadanya.
Inilah awal pencerahan spiritual yaitu membersihkan penyakit hati yang biasa diderita manusia dan mengisinya dengan hikmah, ilmu dan iman.
Setelah itu, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sempat 3 kali berhenti. Pertama, di Madinah untuk melaksanakan shalat sunat. Dalam riwayat lain, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sempat pula melihat rombongan kafilah yang sedang mencari seekor untanya yang hilang. Beliau pun membantu menunjukkan tempat unta tersebut.
Ini merupakan pencerahan sosial Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam saat Isra Mi’raj.
Kedua, melaksanakan shalat di bukit Tursina, suatu tempat dimana Nabi Musa Alaihissalam mendapat 10 perintah Tuhan.
Ketiga, shalat di Yerussalem, tempat Nabi Isa Alaihissalam dilahirkan.
Terakhir Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam berhenti di Baitul Maqdis. Disini beliau melaksanakan shalat sunat di Masjidil Aqsha. Setelah itu, tampaklah sebuah jalan menuju ke langit dan Beliau melaluinya.
Tiba di Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam bertemu Tuhan Yang Maha Besar dan mendapat perintah melaksanakan shalat wajib 5 kali sehari.
Lantas, apakah makna dibalik peristiwa Isra Mi’raj ini?
Manusia yang ingin menggapai kesuksesan dalam menjalani kehidupan ini, maka langkah awalnya adalah:
Pertama, membersihkan seluruh penyakit hati seperti, iri, dengki, hasad, dll. Apabila manusia sudah benar-benar bersih dari segala penyakit hati atau setidaknya berupaya sekuat tenaga ke arah itu, maka tercermin dalam perilaku kesehariannya.
Kedua, mulailah pencerahan spiritual dengan melaksanakan ibadah sesuai syariat. Pencerahan spiritual ini tidak mudah, beragam rintangan menghadang, terutama akibat kesibukan duniawi, kemalasan badan dan kemalasan berpikir. Tetapi apabila ikhlas disertai tanggung jawab tinggi dalam memegang syariat, tentu akan dapat dijalankan dengan baik.
Selanjutnya melakukan pencerahan sosial yaitu:
Pertama, dimulai dari keluarga terdekat seperti suami, istri, anak, mertua, menantu, ipar, dll. Jadilah figur berperilaku baik, agar keluarga terdekat bisa menerima saran dan nasehat yang diberikan. Kalau tidak ada contoh dari diri sendiri, mustahil mereka akan mengikutinya. Contoh yang diberikan bukan sekadar perilaku baik, melainkan juga bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup seperti sandang dan pangan.
Karena itu, etos kerja yang tinggi harus menyertai pencerahan sosial. Meski harus diakui, lahan nafkah seringkali tidak memenuhi harapan yang diinginkan. Sementara kebutuhan hidup tinggi, pendapatan tidak seberapa. Inilah ujian terberat yang harus dihadapi seseorang yang ingin berhasil dalam menuju kesuksesan. Disinilah ketangguhan seseorang diuji dalam menghadapi setiap cobaan.
Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam memberi contoh kepada umatnya melalui hijrah. Karenanya, etos kerja harus bersifat dinamis atau tidak terpaku di suatu tempat tertentu saja. Hijrah mencari penghidupan yang lebih baik dan tidak bersikap pasif di suatu tempat tertentu. Tidak menyerah kepada keadaan dimana dirinya berada.
Apabila mau berhijrah, maka Tuhan menjanjikan kemudahan, keleluasaan dan kelapangan hidup. Sebagaimana Firman Allah SWT: “Dan barang siapa berhijrah (berpindah) maka dia akan mendapatkan banyak perlindungan di bumi (selain tempatnya sendiri) dan keleluasaan.” (Q.S; 4:100). Atau : ”Sampaikanlah: “wahai hamba-hamba-KU yang beriman. Berbaktilah kamu untuk mereka yang berbuat baik di dunia ini. Dan bumi Allah itu luas….” (Q.S: 39:10). Bukankah dimanapun kamu berada disitu bumi Tuhan yang sama?
Berhijrah atau merantau ke suatu tempat yang sekiranya mendatangkan rezeki menjadi suatu keharusan, seandainya tempat menetap (domisili) tidak memungkinkan untuk meningkatkan harkat dan martabatnya. Dianjurkan untuk menjelajahi bumi dan melihat kemungkinan yang ada di luar tempat kita sendiri
Daripada diam terpaku dirumah, lebih baik melanglang buana ke Negara seberang.
Meskipun demikian, harus disadari apabila tercapai kesuksesan, maka kesuksesan yang diraih itu tidaklah dinilai dari melimpahnya pencapaian materi, kedudukan tinggi atau terpenuhinya hawa nafsu. Melainkan bagaiamana menjaga diri dan seluruh keluarga kita dari tempat terburuk, yaitu siksa api neraka. Ku anfusakum wa ahlikum naaron. Mengapa begitu?
Karena tidak ada artinya materi melimpah sedangkan ada diantara anggota keluarga kita yang berjalan dalam arah yang menyimpang dari syariat agama. Sebagaimana sekarang ini banyak terjadi.
Secara ekonomi, orang tua berhasil dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Tetapi secara moral, anaknya justru berperilaku buruk. Bukankah hal semacam ini hanya akan merepotkan orangtuanya di dunia ini? Apalagi di akhirat kelak.
Inilah sesungguhnya makna hakiki dari kesuksesan hidup yaitu menjaga diri dan keluarga dari jalan yang diridhoi Tuhan. Dengan kata lain, tidak ada penilaian kesuksesan atau pencapaian materi yang diperoleh, popularitas atau kedudukan yang dipegang.
Kedua, melihat lingkungan sekitar, seperti tetangga. Terutama mereka yang masih dibelit dengan persoalan duniawi. Perlu mengetahui masyarakat sekitar, apakah masih dalam kemiskinan, ketidakadilan atau kebodohan?
Andaikata dijumpai hal seperti itu, tugas utamanya memberantasnya dengan harta dan tenaga, meski sekaedar kemampuannya. Beramal, infaq, sodaqah dan zakat menjadi bagian yang harus dilakukan.
Tugas ini tentunya tidaklah mudah. Dalam peristiwa Isra Mi’raj, pencerahan sosial Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dicontohkan saat menunjukkan letak unta milik para kafilah yang hilang.
Pada akhirnya, pencerahan sosial akan membentuk kesalehan sosial, yaitu kepedulian yang tinggi terhadap sesama manusia, terutama terhadap fakir miskin dan anak-anak yatim. Sedangkan, pencerahan spiritual membentuk kesalehan pribadi yang tercermin dalam perilaku akhlak keseharian yang baik dan teguh dalam memegang syariat agama.
Kehidupan merupakan bagian dari upaya manusia untuk menuju kesuksesan, yang harus dilakukan dengan penuh kebijaksanaan, ketenangan dan kemantapan iman yang tinggi.
Apabila berhasil dalam melakukan dua pencerahan ini, Tuhan Yang Maha Besar sudah menjanjikan kepada umat manusia berupa Surga di dunia yaitu kebahagiaan, kedamaian dan jiwa yang tenang (nafs muthmainnah) dalam mengarungi kehidupan.
Kemudian dijanjikan Surga di akhirat kelak. Setelah merasa senang berada di kediaman abadi, selanjutnya manusia mendapat kesempatan untuk memandang wajah Tuhan di Sidratul Muntaha, sebagaimana pernah dialami Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Inilah puncak kebahagiaan tertinggi manusia.
Harus dipahami, bahwa dalam menggapai keberhasilan tidak dibutuhkan penonton. Kita semua adalah pelaku.

Menggapai Langit Dengan Bahan Bakar Dzikir



Rosulullah Saw mengatakan bahwa seharusnya kalian berkata kepada masyarakat umum sesuatu yang dapat dimengerti oleh mereka. Jika mereka tidak dapat mengerti, maka apa yang kamu katakan adalah Kesia-siaan. Kemubaziran adalah teman syetan. Haji Ismail menanyakan pada saya tentang Ruh (Soul), dan meminta saya untuk menjawab dengan sesuatu yang mudah dimengerti dan mudah diingat. Ini juga berarti sebuah pertanyaan pengetahuan ((As suaatu nisful ilm). Jika seseorang tidak mengetahui sesuatu, seseorang tidak akan membuat pertanyaan tentang suatu hal. Jika seseorang ingin memiliki pengetahuan tentang sesuatu hal, dia harus sudah memiliki pengetahuan dasar tentang hal tersebut dan kemudian bisa membuat pertanyaan tentang hal tersebut untuk menjadikan pengetahuannya meningkat menjadi sebagai sebuah keyakinan/kepastian (knowledge of certainity). Ada banyak tingkatan dalam kepastian/keyakinan. Jangan berfikir bahwa kalian akan mencapai "Keyakinan yang Sempurna" hanya dalam satu langkah. Kalian bisa menggapai "Keyakinan Sempurna" secara gradual, setahap demi setahap.

Suatu ketika seorang Muadzin melakukan panggilan sholat dan meneriakkan "Allahu Akbar", Mansoor al-Hallaj (Semoga Allah Memberkatinya) berteriak "Oh pembohong". Masyarakat yang mendengar menangkapnya dan membawanya ke pengadilan dan melaporkan kepada hakim bahwa dia (Mansoor al-Hallaj) meneriaki muadzin sebagai pembohong ketika sang muadzin meneriakkan "Allahu Akbar". Al-Hallaj menjawab, " Ya..., saya panggil dia seorang pembohong". Hakim berkata, " Apa maksudmu ?, bagaimana kamu tahu kalau dia seorang pembohong". Mansoor al-Hallaj menjawab, " Datanglah padaku, kalian semua yang ada disini". Mereka semua mengikutinya menuju suatu tempat pandai besi dimana ada sebuah besi besar disana. Al-Hallaj kemudian berdiri diatas besi tersebut dan berteriak "Allahu Akbar". Besi tersebut mulai mencair dan mengalir seprti air, kemudian al-Hallaj berkata, "Jika dia dengan sungguh2 meneriakkannya (Takbir), menara masjid itu akan runtuh, karena itu saya panggil dia seorang pembohong. Dia tidak mengucapkannya dengan Keyakinan/Certainty, Jika dia melakukannya dengan keyakinan, segala sesuatu yang tidak hidup akan mengerti dan akan mencair seperti air.

Karena itu Keyakinan (Certainty) adalah sangat penting bagi orang2 yang beriman. Kalian tidak akan mencapai keyakinan dengan hanya melalui membaca buku. Saat ini begitu banyak orang pinter/ulama/scholar dan begitu banyak Doktor hasil dari buku2 (Doctors of letters) melebihi era-era sebelumnya, tetapi tidak ada Keyakinan dalam pengetahuan/ilmu2 mereka. Mereka tahu hanya melalui lidah mereka tetapi tidak dari hati mereka. Sedangkan Keyakinan itu melalui hati dan membuat seseorang akan terus berproses memperbaiki dirinya untuk menggapai stasiun-statiun langit. Jika tidak ada keyakinan tingkatan kalian akan selalu di level bawah.

Terkait perihal "Ruh", ini adalah sebuah samudera rahasia. Kalian tidak bisa memasukkan rahasia samudera ke dalam segelas cangkir. Bahkan jika kalian mencoba melakukannya, itu akan sia-sia. Ya..., kapasitas kita memang terbatas. Hanya setetes kecil saja dari samudera itu akan mencukupi untuk dibagikan kepada semua manusia, bahkan mungkin berlebih. Selama ini ruh terpenjara dengan tubuh fisik kita, walaupun hanya sedikit telah memberikan banyak hal pada manusia. Hanya dengan setetes kecil, dapat diterima dan terbagi pada setiap orang. Dari setetes kecil itu telah membuat kalian bisa melihat, mendengar, mencium, mengecap, berbicara, menyentuh, memegang, berjalan, merasakan dan akhirnya dapat memahami. Bagaimana itu terjadi kalian bisa melihat, mendengar, mencium, merasakan, berbicara dan memahami? Kalian bisa mengangkat tangan dan menurunkannya kembali, kalian bisa menangkap sesuatu tetapi tidak tahu bagaimana itu terjadi. Kalian berjalan, tetapi tidak tahu bagaimana kalian dapat berjalan.

Lihatlah dalam dirimu, dan kalian akan menemukan keseimbangan yang sempurna. Ada 360 organ (inner and outer) yang masing2 memiliki fungsinya sendiri2. Ketika salah satu dari mereka bekerja, itu tidak akan mencegah yang lainnya untuk bekerja. Bagaimana mungkin bagi kalian untuk mengerti perihal "Ruh" melebihi ini ? Mungkin ketika Ruh kalian meninggalkan tubuh kalian dan kembali, mungkin kalian akan mengetahui batasan2 lautan tanpa akhir itu.

Kalian akan mendapatkan banyak dan banyak lagi kebahagiaan yang tanpa akhir. Semakin banyak kalian menggapainya, semakin banyak yang kalian inginkan yang tidak akan pernah putus. Namun demikian, kalian akan selalu merasa puas ketika kalian meminta lebih. Kalian akan selalu merasa haus, tetapi bukanlah kehausan seperti yang sering kalian alami selama ini. Ini adalah sebuah kehausan dengan kepuasan. Ini adalah kesenangan tanpa akhir untuk manusia, yang akan di berikan terus-menerus (tanpa akhir).

Kalian saat ini tidak sedang dalam keadaan haus atau lapar, tetapi kalian sedang merasa "haus dan lapar" untuk mengetahui samudera-samudera rahasia. Ini bukanlah rasa lapar atau haus yang menyakitkan. Ini adalah sebuah rasa haus yang menyenangkan. Sepertihalnya orang yang sedang jatuh cinta, dan cintanya semakin meningkat dan terus bertambah. Selama cintanya meningkat, meningkat pula kesenangannya dan ini tidak menyakitkan baginya. Semakin meningkat, semakin banyak permintaannya. Ini sama dengan jiwa kita yang terus meminta dan meminta lebih bagi dirinya dari samudera rahasia. Ya....,untuk menggapai lebih dan lebih dari samudera ke samudera, dan menuju samudera tak bertepi. Ini akan terjadi selamanya bagi jiwa kita.

Penjelasan ini begitu singkat. Tetapi saya kira pengertian kita akan ruh ini adalah berharga meskipun masih sedikit. Kita berharap, semoga pengetahuan dan pengertian kita akan ruh terus berubah dan bertambah, sepanjang kita terus memperbaiki Dzikr kita. Karena melalui Dzikr akan membimbing kita kepada samudera rahasia.

Jika seseorang ingin terbang melintasi awan, dia harus menggunakan pesawat. Dia tidak akan dapat terbang dengan sendirinya, tetapi dia harus menggunakan alat Bantu (Benda mati), seperti pesawat. Ini adalah kekurangan manusia, karena ia bergantung pada benda mati untuk terbang. Dia seharusnya bisa melakukannya dengan dirinya sendiri. Jiwa kita memiliki kekuatan tidak hanya untuk terbang melintasi awan, tetapi juga melintasi angkasa bahkan luar angkasa. Tidak hanya untuk menggapai alamat semesta, tetapi juga untuk menggapai sisi luar dari semesta. Kita memiliki kekuatan Jet, Mesin Jet, tetapi kita tidak memberikan bahan baker pada mesin jet kita. Karena itu kita hanya bisa berlari di atas permukaan bumi. Apakah bahan bakarnya ? Bahan bakarnya adalah Zikr. Syetan saat ini berusaha mencegah masyarakat untuk melakukan Zikr. Masyarakat mengatakan bahwa Zikr adalah sesuatu yang baru (Bid'ah / Innovation) dan karena itu mereka tidak mau ber-Zikr. Zikr adalah bahan baker bagi "Ruh" untuk terbang melintasi angkasa, untuk terbang melintasi semesta, dan untuk menggapai surga-surga. Kalian tidak akan dapat menggapainya dengan cara lain, kecuali dengan Zikr.

Bihurmati Habib..Al-Fatihah....

Diambil dari sheikhnazim.com

Bismillahir Rahmanir Rahim- kunci untuk seluruh masalah




Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al Qubrusi Al Haqqani

As-salamu 'alaikum! As-salam qabla-l kalam! Rasulullah saw, Nabi, Nabi paling terhormat, paling dicintai, paling terpuji, berkata: "Sebelum kalian bicara, ucapkanlah Salam!"

Oleh karena itu, Salam berasal dari Sunnah, dari Jalan suci yang membimbing manusia menuju Surga, untuk memelihara anjuran dari Rasulullah saw dan kami mengucap '*As-salamu 'alaikum*'!

Dan kalian harus mengucapnya, kalian harus memohon dukungan dari orang-orang suci yang memerintah sesuatu disini di muka bumi dan langit. Kita harus tahu bahwa kita adalah orang-orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan!

Dan kalian harus mengucap '*Audzu bi-llahi mina syaitani rajim*'; kita harus tahu siapa yang memotong jalan-jalan kita untuk mencapai Surga! Manusia harus tahu siapa musuh mereka, siapa yang memotong jalur mereka mencapai Tuhan mereka, Pencipta mereka Allah yang Maha Kuasa! Oleh karenanya kita harus mengucap "*Audzu bi-llahi mina syaitani rajim*. Ya Tuhan kami, kami berlari menuju-Mu dari setan", dialah makhluk pertama yang membangkang, berkata dalam Hadirat Illahiah: "Aku tidak mau menerima, aku tidak peduli apa yang Kau perintah kepadaku untuk dilakukan!"

Yang pertama membangkang di Surga adalah Setan dan kalian harus berkata: "*Audzu bi-llahi mina syaitani rajim*, Ya Tuhan kami, kami berlari menuju-Mu dari setan yang telah melakukan hal buruk di Hadirat Illahi-Mu!"

Yang pertama; tidak ada yang pernah mengatakan 'Tidak' dalam Hadirat Illahi, tidak mungkin! Siapa dia yang berargumen dengan Tuhan-nya, dengan Pencipta-nya? Bagaimana itu bisa terjadi? Pastilah dia yang terburuk yang berargumentasi dengan Sang Pencipta atau Pencipta-nya, apa itu? Bagaimana mungkin makhluq berdiri dan berkata: "Ya Pencipta-ku, apa yang Kau perintahkan kepadaku tidaklah benar, itu salah! Bagaimana mungkin Kau dapat memberikan perintah kepadaku untuk melakukan *Sajdah* (sujud) terhadap dia dan aku sudah diciptakan sebelum makhluk baru ini dan aku telah ratusan dan ratusan tahun selalu memuliakan-Mu dan beribadah kepada-Mu? Dan aku berpikir kalau ketaatanku diterima melalui Hadirat Illahiah-Mu dan aku berpikir atau aku berharap bahwa Kau seharusnya menerima apa yang sudah aku lakukan bagi-Mu dan aku berharap kepada-Mu akan pahala-Mu kepadaku! Tapi kini, aku memperhatikan kalau Kau mencipatakan sebuah makhluk yang belum pernah melakukan apapun bagi-Mu, tidak pernah melakukan satu *Sajdah* (sujud), aku memenuhi bumi dan Surga dengan *Sajdah*-ku (sujud) kepada-Mu dan kini Kau berkata kepadaku kalau aku aku berharap sebuah pahala dari-Mu, sebaliknya bukan pahala yang Kau berikan malah perintah: 'Larilah, bersujud kepada Adam!' "

Pengumuman Surgawa datang: "Siapakah engkau yang berkata seperti di Hadirat Illahiah-Ku? Siapakah engkau yang berargumentasi bersama Pencipta-mu? Setan! Pergilah! Siapakah kau yang berani melakukan argumentasi? Cepatlah menyingkir, keluar dari Hadirat Illahiah-Ku! Aku sudah menganugerahimu berada di Hadirat Illahiah-Ku dan kini kau berkata seperti ini dihadapan-Ku, Sang Penguasa Surgawi, Sang Maha Esa yang menciptakan segala sesuatu termasuk kau, berkata kepada-Ku: 'Aku tidak akan melakukan *Sajdah*, aku tidak akan bersujud kepada dia'? Setan! Pergilah!"

Dialah makhluk terburuk dan dialah seburuk-buruknya makhluk dan dia tidak peduli apa yang Tuhan Penguasa Surgawi, Sang Pencipta seluruh Keberadaan termasuk keberadaan dia juga, berkata tidak peduli dan berkata kepada Pencipta-nya: "Aku tidak akan bersujud!" Inilah pelajaran pertama bagi Anak Adam: untuk mengetahui bahwa makhluk itu adalah makhluk terburuk yang pernah diciptakan. Dan dia meninggalkan Sang Penciptan dan berpaling dan menghampiri Adam dan Hawa dan generasi mereka, anak-anak mereka dengan berkata: "Aku memberikan sumpahku, seperti Kau membuat berada dalam posisi itu untuk semua makhluk ini, aku memohon agar Kau memberikan aku waktu, sebuah periode untuk mengejar orang-orang yang telah diberikan kehormatan oleh Diri-Mu, untuk menjadikan mereka sama sepertiku, tidak mendengarkan- Mu, tidak patuh kepada-Mu, tidak bersujud kepada-Mu! Aku akan melakukan yang terburuk" –bukan terbaik!- "kepada seluruh ummat manusia, bahwa Kau tidak akan menemukan seorang pun dari mereka, generasi dari Adam dan Hawa, taat kepada-Mu. Aku akan berusaha, sebisa mungkin untuk membawa mereka ke jalan-jalan sesat dan menjadikan mereka melakukan argumentasi kepada-Mu, berargumentasi tentang tujuan-tujuan mereka. Aku akan melakukan segalanya, setiap hal buruk kepada mereka, agar
tidak menjadi hamba-hambah yang patuh kepada-Mu dan ketika mereka menjadi hamba-hamba yang tidak patuh, mereka tidak akan pernah mencapai kehormatan sejati yang Kau anugerahkan kepada mereka, bukan kepadaku!"

Oleh karena itu, wahai manusia, kalian harus memikirkannya, kalian harus berusaha untuk mengetahui siapakah musuh yang buruk dan paling berbahaya! Oleh karenanya, sebelum berbicara ucapkan "*Bismillahir Rahmanir Rahim*" kalian harus mengucap: "*Audzu bi-llahi mina syaitani rajim*, Ya Tuhan kami, kami berlari menuju-Mu dari serangan musuh paling berbahaya pada diri kami dan membawa kami dari garis kepatuhan ke garis ketidak patuhan!"

Benar, kalian harus berkata: "*Audzu bi-llahi mina syaitani rajim*, Ya Tuhan kami, kami memohon Perlindungan Surgawi-Mu melawan musuh terburuk itu, jangan letakkan diri kami dalam sebuah posisi dimana kami tidak pernah sanggup untuk mencapai-Mu atau diri kami sendiri dan kami dapat dengan bebas menjadi hamba-hamba- Mu tanpa dikelabui oleh makhluk buruk itu, mungkin makhluk terburuk! Ya Tuhan kami, jagalah diri kami!"

Kita membicarakan kepatuhan. Itulah dasar kepatuhan kepada Tuhan kita. Setan, diabolo, berseru kepada diri kita: "Datang, datang kepadaku, datang ke jalanku, aku akan membimbing kalian ke kehidupan yang sangat terang, bebas memenuhi segala keinginanmu, demi kebahagiaanmu. Aku disini, datanglah kepadaku!"

Tu pada setan itu! Tu! Buatlah tu padanya! Tu! *Audzu bi-llah*! Tapi- makhluk yang dikutuk itu berkata: "Aku bahagia menjadikanmu, aku berusaha menjadikan bagimu sebuah jebakan "-dan kita berkata:"Jebakanmu bukan apa-apa! Kami berlari menuju Tuhan kami dan jebakan Tuhan kami akan menangkapmu! Seluruh jebakan bagi makhkluk terkutuk yang mengejarmu, patuh kepadamu mereka seperti diri kalian juga, kalian akan jatuh dalam jebakan surgawi yang diletakkan di muka bumi!"

Semoga Allah mengampuni kita!

Dan kini kita berkata, jika memahami ini, kalian akan mengucap '*Bismillahir Rahmanir Rahim'*. Ohhh, kehormatan tanpa akhir, kehormatan tanpa akhir bagimu, bagiku, bagi setiap orang yang mengucap '*Bismillahir Rahmanir Rahim'*! X! Mengerti bahasa Inggris? Sedikit! Dia datang dari X.stan, tidak banyak memahami. Benar, Ya Tuhan kami, Kau memberi anugerah kepada kami, Kau menghormati hamba-hamba- Mu yang lemah! Jadi hamba-hamba yang lemah, kita sangatlah lemah, tapi Engkau memberikan diri kita sebuah Samudera kekuatan!

"Wahai hamba-hamba- Ku", sabda Allah yang Maha Kuasa, "jika kalian menghadapi sebuah posisi yang sulit, jika masalah-masalah kalian tidak pernah menemukan sebuah penyelesaian, panggillah Aku dan ucapkan '*Bismillahir Rahmanir Rahim *! Itulah pedang-Ku

yang dianugerahkan kepada kalian untuk melawan setan, diabolo dan para pengikutnya! "

Kekuatan! *Bismillahir Rahmanir Rahim* (Dzikr sekitar 20 kali)! Begitu manis! Begitu bertenaga!

Jika mayat seseorang bisa berkata, berdiri, jika orang yang sakit mengucapkan ini, mungkin bisa berdiri, jika orang yang lemah mengucapkan ini, berdiri- dengan kekuatan! Kekuatan dicapai dari Surga kepada kalian, wahai ummat manusia, tapi kalian juga idiot, mengikuti setan! Tinggalkan dia! Datang dan ucapkan: "*Bismillahir Rahmanir Rahim*!" *Subhan Allah
Sultan Allah*! Betapa besar kehormatan yang Allah Maha Kuasa anugerahkan kepada kita! Oleh karenanya, setidaknya ucapkan 40 kali dalam sehari: *Bismillahir Rahmanir Rahim*! Jika kalian dapat melakukan 100 times, itu lebih baik. Selama 24 jam buatlah satu waktu; itu akan menghabiskan waktumu selama 5 menit untuk mengucap 100 kali '*Bismillahir Rahmanir Rahim*', tapi datang kepadamu sebuah kekuatan, menyuapi tubuh fisik kalian sebaik jiwa kalian! Jangan tidak peduli, wahai kalian! Itulah kunci yang dianugerahkan dari Surgawi kepada kalian, untuk membawa penyelesaian bagis setiap masalah dan juga dibukakan kepada kalian pintu-pintu yang tertutup. Kalian mengucap '*Bismillahir Rahmanir Rahim*' dan Allah yang Maha Kuasa menganugerahi kalian terbuka, terbuka, tanpa akhir, pintu-pintu tanpa akhir. Allah -*jalla jalalahu*- Maha Kuasa menyiapka hamba-hamba-Nya jika mereka menggunakan, harta karun! Bukan harta karun dibumi, tapi harta karun surgawi yang akan dibukakan kepada kalian!

Wahai kalian, datang dan dengarkan! Cukup kalian meminum dan menjadi mabuk! Jangan, kalian harus tetap sadar! Kalian harus mencari waktu dimana kalian dapat mengucap setidaknya 40 kali *'Bismillahir Rahmanir Rahim'*. Jika kalian bisa melakukannya hingga 100 kali, itu bagus! Beberapa orang datang dan berkata kepadaku: "Wahai Syeikh, kami berlari ke Thariqah, jalan-jalan ke Surga, jalan-jalan surgawi, dan kami berusaha tapi kami tidak meraihnya. Bagaimana menurut anda?"

Saya menjawab: "Aku memberikan kalian sesuatu, jika kalian dapat melakukannya, kalian akan disiapkan untuk sebuah pembukaan surgawi!"

"Apakah itu?"

"Setelah sholata Fajr, sampai matahari terbit, bacalah sebanyak 1.000x '*Bismillahir Rahmanir Rahim*'. Selama 40 hari, kemudia akan mulai muncul kepada kalian beberapa berkas sinar Nur, Cahaya-cahaya Surgawi. Selama 40 hari setiap hari sinar itu akan semakin kuat, sampai kalian dapat memperhatikan dan melihat apa yang ada dalam Malakut, Surgawi!" Ketika *Azan* berkumandang, kita mengucap: "Kita masih punya waktu, kita bisa tidur lagi."

Ehhh! Matahari terbit!

Aku memberikan izin! Siapa pun yang dapat melakukannya selama 40 hari harus muncul seberkas sinar dari Surgawi dari qalbunya. Jika kalian menjaganya, kalian akan mencapai Air Mancur. Kalian dapat mencapai Air Mancur Cahaya. Itu bukan dari bumi, tapi milik Surga. Dan kita tidak membutuhkan misil-misil untuk membuat Air Mancur itu. Tidak tidak tidak! Kalian mempunyai sebuah kekuatan yang dapat menghancurkan seluruh misil dalam waktu kurang dari satu detik, dalam satu detik! Kita makhluk yang sangat kuat, tapi kita tidak mengatur maqam kekuatan, untuk meraih ke posisi kita yang telah dianugerahkan kepada kita oleh Tuhan kita yang Maha Kuasa, Allah! Kita tidak menaruhnya sebagai muatan, oleh karenanya kita berada setengah jalan, dan kemudian kita mundur.

Oleh karena itu, wahai kalian, kita kini memulai mengajari orang-orang sesuatu pondasi yang sejati, dasar sejati bagi penghambaan. Jika kalian tidak membuat dasar itu, kalian tidak sanggup melakukan layanan dalam Hadirat Illahiah. Oleh karenanya kita pertama-tama berusaha untuk membangun dasar yang kuat, lalu kita bisa membangunnya.

Semoga Allah mengampuni kita! Ini sudah cukup; kita hanya baru mulai, kita hanya mengucap '*Bismillahir Rahmanir Rahim*'. Jika kita berbicara, jika mereka meninggalkanku untuk membicarakannya, mungkin (dilanjutkan hingga) hari Minggu berikutnya, mungkin bulan depan, mungkin tahun depan, mungkin abad mendatang, tidak pernah selesai! Wahai orang-orang, kalian telah diceptakan untuk keabadian! Keabadian, berusaha untuk mencapai kehidupan abadi! Allah yang Maha Kuasa abadi, dan Dia menganugerahkan kepada hamba-hamba sejati dari Samudera Keabadian-Nya sesuatu untuk selamanya dalam Hadirat Illahiah-Nya.

Semoga Allah mengampuni kita dan merahmati kalian! Demi kehormatan yang
paling terhormat, Sayyidina Muhammad saw, Fatiha!